B
anyak kita lihat sekarang ini kejadian, orang tidak lagi melihat mana yang benar dan mana yang salah, malahan lebih mengutamakan untuk menang walau berbuat salah, sehingga orang mencari sesuatu dengan jalan pintas, dimana mana terjadi kekerasan, penipuan, perampokan dan pembunuhan, ini disebabkan oleh krisis keimanan, yang melanda kehidupan manusia.
Ditengah situasi krisis yang sesulit apapun, sesungguhnya hanya ada satu kunci yang hendaknya selalu kita pegang, yaitu Semangat.
Semangat memang satu kata yang sering hilang dari kamus hidup kita. Kalaupun tidak hilang, minimal cahayanya meredup. Redupnya semangat ini akan mengikis optimisme yang pada gilirannya akan berimbas pada kadar keimanan kita sebagai hamba kepada Khaliknya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda “Al Imanu yazid wa yankus”. Artinya: “Iman itu naik dan turun”. Dengan naik dan turunnya keimanan manusia, maka berpengaruh juga naik turunnya kepada semangat diri kita. Karena itulah dalam hidup ini, semangat dan keimanan memiliki suatu hubungan yang sangat dekat dan tidak bisa dipisahkan. Seorang yang sedang turun keimanannya pasti akan turun pula semangat untuk beribadah, belajar, berikhtiar mencari rejeki. Ataupun segala perbuatan yang baik dan bermanfaat lainnya. Begitu pula sebaliknya, jika keimanan kita sedang naik, maka kadar semangat kitapun akan menjadi naik, sehingga kita selalu optimis dalam menghadapi tantangan.
Beban hidup yang sedang kita hadapi bersama sekarang ini memang berat dan beraneka ragam bentuknya. Namun bagi kita umat Islam tidak boleh ikut hanyut akibat penderitaan ini. Terlebih sampai kehilangan gairah hidup atau pesimis memandang seolah-olah hidup ini semakin gelap. Kita harus mempunyai harapan hidup yang lebih besar atau bersikap optimis dan penuh keyakinan bahwa pertolongan dari Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah : Dalam surat Alam Nasyrah ayat 5-6 yang artinya
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Kita harus yakin bahwa sesulit apapun penderitaan kita, Allah pasti akan menolong apapun penderitaan hambanya. Asalkan kita masih memiliki iman dan selalu beramal shaleh disertai dengan kesabaran.
Dalam menghadapi kehidupan yang penuh goncangan dan kesengsaraan ini hendaknya kita selalu bersikap tegar, sabar dan lapang dada. Dalam satu Syair arab dikatakan ”Palaitaka tahlu, walhayaawatu mariirah, walaitaka tardha, wal’anaamu ghadbaan” artinya “Biarlah engkau bersikap manis walaupun hidup terasa pahit, dan biarlah engkou tetap ridho walaupun semua
manusia menunjukkan kebencian”.
Dalam kehidupan ini, bahwa tiap jiwa manusia membutuhkan makanan lahiriah dan batiniah, terkadang kita melupakan hal tersebut dan hanya mementingkan lahiriahnya saja.
Semangat dan keimanan adalah zat yang harus di isi kepada manusia untuk menaungi batiniah menjaga berbagai macam ibadah yang dapat menjadi obat dalam menghadapi krisis semangat dan keimanan.
Dapat kita lihat beberapa waktu yang lalu sering kita dengar alunan lagu “Tombo Ati” atau obat hati yang dinyayikan oleh Opick; yang dapat membetengi krisis Iman, yaitu :
1. Membaca Qur’an dan maknanya.
2. Mendirikan sholat malam.
3. Berkumpul dengan orang sholeh dalam
4. majlis ilmu.
5. Perbanyak puasa sunnah, dan
6. Berzikir pada setiap waktu.
Kalau ini kita terapkan dengan Ikhlas Insya Allah kerisis semangat dan keimanan secara pelan namun pasti akan hilang dari diri kita. Agar keimanan kita tetap terpelihara dan terjaga serta terus mengalami peningkatan kualitas, untuk memeliharanya dapat kita lihat dalam sabda Rasulullah Saw. yang artinya :
“Ada lima hal yang merupakan bagian dari keimanan, barang siapa di dalam dirinya tidak terdapat lima hal itu, maka ia tidak memiliki keimanan.
1. Ketundukan kepada perintah Allah,
2. Menerima ketentuan Allah.
3. Berserah diri kepada Allah, Tawakal kepada Allah, dan
4. bersikap sabar kepada ketentuan Allah”.
Menyadari kondisi kita sebagai manusia yang ada kalanya semangat dan keimanannya turun, maka Allah akan selalu menerangi hati kita dengan pelita kebenaran. Dan dengan kesadaran pribadi tersebut selanjutnya diaplikasikan dengan tertanamnya tekad dalam hati untuk memperbaiki diri kita sendiri.
Seseorang yang semangatnya terikat dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah memasuki samudra yang tak bertepi. Ia akan mendapatkan apa yang dicita-citakannya, meskipun cita-citanya teramat tinggi dan tubuhnya lemah. Semangatnya itu akan membuatnya, mengantarkannya untuk memperoleh sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh
tubuhnya yang lemah.
Betapa sering sesuatu (amal) yang sedikit menjadi bernilai banyak karena niat yang baik dan betapa sering sesuatu amal yang banyak menjadi sedikit (nilainya) karena niat yang buruk.
Jika ada seseorang mengaku bahwa dirinya berniat baik, maka perhatikanlah amalnya. Sebab, setiap amal akan menunjukkan niat pelakunya. Jika amalnya baik, itu menunjukkan bahwa niatnya baik, dan jika amalnya buruk, itu menunjukkan bahwa niatnya buruk pula.
Sesungguhnya Allah hanya memperhatikan semangat dan niat seseorang, barang siapa yang semangatnya tertuju untuk Allah, meskipun perbuatannya belum sesuai dengannya, maka dapat diharapkan suatu saat perbuatannya akan mengikuti semangatnya.
Seseorang yang semangatnya tertuju kepada kemaksiatan, kemudian dia berbuat kezaliman serta kemaksiatan dan pada saat yang sama lisannya berzikir kepada Allah, maka ucapan lisannya tersebut justru akan menjadi saksi yang memberatkan dirinya.
Sedangkan seseorang yang semangatnya tertuju kepada Allah, meskipun pada saat itu anggota tubuhnya masih melakukan perbuatan yang tidak diridhai, maka suatu saat anggota tubuhnya akan menjadi baik.
Barang siapa anggota tubuhnya taat kepada Allah, tetapi anggota tubuhnya tertuju kepada kemaksiatan, maka suatu saat anggota tubuhnya akan mengikuti semangatnya itu, karena itulah Rasulullah Saw. bersabda yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak memandang paras muka dan bentuk tubuh kalian, akan tetapi Dia mendang hati dan niat-niat kalian.”
Beramallah untuk Allah sesuai dengan kadar semangat dan niatmu dengan Ikhlas, karena Allah akan memberikan pahala sesuai dengan kadar semangat dan niat, bukan menurut kadar amal. Sebab gudang gudang Allah Ta’ala telah penuh dengan ibadah.
Ada Malaikat yang sujud sejak sebelum diciptakan dunia hingga hari kiamat, dan ada pula yang terus menerus rukuk, mereka semua menikmati zikir sebagaimana telah kita ketahui. Jika demikian adanya, lalu apalah artinya amal kita.
Dengan demikian jelaslah bagi kita, bahwa semangat dan keimanan harus dijaga, dan dirawat serta ditingkatkan kwaliatasnya, dengan sikap ketulusan kepada Allah Swt. Mudah-mudahan bathin kita akan menjadi tersinari dan tenang di dalam menjalani realitas kehidupan ini.
“Beban menyimpan rahasia lebih ringan dari pada perasaan hawatir akan terbongkarnya rahasia yang kau ceritakan kepada
orang lain”
Minggu, 30 Agustus 2009
Kejayaan Kita Yang Sesungguhnya
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan Allah, Kamipun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa dengan seketika, maka ketika itu mereka
terdiam berputus asa”. (Al An’am : 44)
T
erdapat banyak hadits yang menerangkan bahwa kenikmatan yang diberikan kepada orang yang tidak beriman disebabkan amal baik mereka atau penangguhan terhadap dosa-dosa mereka didunia ini. Siapa saja dari masyarakat yang tidak beriman yang melakukan perbuatan baik pasti cepat maju dan mewah, dan mereka ditangguhkan adzab atas dosa-dosa mereka, sedangkan orang-orang mukmin dikenakan adzab didunia ini atas dosa-dosa yang mereka buat.
Sebuah hadits menyebutkan ujian bala’ senantiasa bersama orang mukmin, dia diuji dengan dirinya, hartanya, anak-anaknya dan sebagainya, sehingga tertebus amalan-amalan buruknya dan dia meninggalkan dunia ini dalam keadaan bebas dari dosa-dosa. (Tirmidzi)
Penindasan, kezholiman, kelicikan dan pencabulan adalah perbuatan yang akan diperhitungkan didunia, baik orang Islam maupun non Islam. Begitu juga mereka yang mencemooh dan mengejek para Nabi dan Rasul Allah, mereka akan di adzab oleh Allah. Dalam keadaan begini Allah tidak akan menangguhkan hukuman keatas mereka. Beberapa peristiwa yang meriwayatkan kemusnahan kaum terdahulu yang telah diceritakan di dalam Al-Qur’an adalah bukti dan saksi yang nyata atas perkara ini. Bila suatu kaum jatuh atas sebab kezholiman, adzab dari langit datang menolong orang yang tertindas. Sesuai Firman-Nya : “Aku mendengar panggilan orang yang tertindas dan memperkenankan panggilannya, walaupun dia orang kafir. Maka dengan ini hendaklah kita semua sadar bahwa siapa saja yang menindas (tidak membuat keadilan), dia pada hakikatnya tidak menindas orang lain tetapi telah menindas dirinya sendiri.
Kejayaan bagi orang-orang Islam dan orang kafir tidaklah sama, Allah telah memisahkan mereka. Hanya kejahilan dan ketidak sadaran terhadap agama yang menyebabkan kita berfikir, apa saja yang memberikan kejayaan kepada orang-orang kafir akan membawa kesejahteraan orang-orang Islam juga. Tanamkan dihati bahwa tempat yang sebenarnya bagi mengadzab orang-orang kafir terhadap dosanya ialah di akherat dan kadangkala saja didunia disebabkan beberapa alasan tertentu. Bagi perbuatan baik yang mereka lakukan, maka Allah membalas didunia ini saja, tidak diakherat. Alasan ini adalah munasabah karena orang kafir tidak mengakui akherat maka mengapa pula menerima ganjaran diakherat.
Seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra. mengenai maksud surat Hud ayat 15. Beliau mengatakan bahwa harga amal kebaikan mereka dibayar dengan kesehatan dan kesenangan, dengan anak-anak dan harta. Tetapi ingat, ini tidaklah bermakna bahwa Allah wajib membayar (mengganjari) mereka didunia, hal ini di batasi dengan syarat yang telah diterangkan pada surat Bani Israil ayat 18, jika Allah menghendaki.
Said bin Jubair ra. telah memberikan penerangan yang sama terhadap surat Hud diatas. Amalan kebaikan mereka akan diganjari didunia ini. Qatadah ra. juga meriwayatkan bahwa Allah SWT. memberikan ganjaran keatas perbuatan baik mereka didunia ini dan apabila tiba hari akherat, tidak ada satu perbuatan baikpun yang belum diberikan ganjaran. Dan bagi orang-orang mukmin amal kebaikan mereka akan diganjari didunia ini dan (diatas keimanan mereka) diganjari juga di akherat. Mujahid rah. a mengatakan perbuatan baik orang kafir akan diganjari sepenuhnya didunia ini. Maimun bin Mehran mengatakan jika seseorang ingin mengetahui derajatnya dalam pandangan Allah mestilah melihat amalnya sendiri, karena dia akan mendapatkan hasil dari perbuatannya, apakah ia orang mukmin atau kafir. Orang mukmin diganjari didunia dan akherat, sedangkan orang kafir dibayar kembali hanya didunia ini.
Muhammad bin Ka’ab rah. a menyatakan bahwa orang kafir yang telah melakukan perbuatan baik walaupun sebesar zarrahpun pasti diganjari didunia ini melalui anggota badannya, keturunannya dan keluarganya yaitu melalui kesehatan badan dan kekayaan/keuangan sehingga apabila dia meninggal dunia ini, tidak ada satu perbuatan baikpun yang belum diganjari. Dan bagi orang Islam yang telah melakukan perbuatan maksiat walaupun sebesar zarrah akan diadzab didunia ini melalu anggota badannya, keturunannya dan keluarganya yaitu melalui berbagai penderitaan jasad dan keuangan sehingga apabila ia meninggal dunia tidak ada satu perbuatan maksiat yang belum dibalas dengan siksaan.
Sulaiman bin Amir ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., ”Bapakku begitu menjaga hubungan keluarga, menepati janji dan melayani tamu dengan baik dan ramah. Apakah amalan ini akan memberikan faedah kepadanya?” Rasulullah SAW. bertanya, ”Apakah ia meninggal sebelum kedatangan Islam?” Beliau menjawab, ”Ya”. Rasulullah SAW. bersabda, ”Dia (bapakmu) tidak akan diberi ganjaran di akherat walau bagaimanapun, keturunannya akan mendapat faedah. Kamu tidak akan mendapat kehinaan, dimalukan atau kemiskinan disebabkan amal kebaikan yang dilakukan oleh bapakmu yang telah meninggal dunia”.
Berdasarkan penerangan diatas kita dapati sebagian orang kafir maju dan jaya didunia, padahal tidak terdapat amalan baik mereka. Ini mungkin disebabkan amalan baik dari leluhurnya. Dari Anas ra., Rasulullah SAW. bersabda, ”Siapa yang inginkan sesuatu sedangkan masih bergelumang dengan perbuatan maksiat maka dia tidak akan mendapat apa yang diinginkan itu. Hasil dari usahanya bertentangan dengan yang diinginkannya bahkan akan lebih dekat kepada apa yang ditakutinya (tidak diinginkan)”. Orang-orang Islam yang masih melakukan dosa-dosa dan perbuatan buruk yang mengharapkan kemajuan dan kemakmuran, akan senantiasa dinafikan dari itu, dan menginginkan kemewahan orang kafir dengan mengikuti jejak mereka, tanpa segan dan malu adalah asbab kegagalan.
Ada suatu adat bagi tentara Persia dan Romawi, apabila tentara mereka dapat menaklukkan musuh, maka mereka akan memenggal panglima perang musuh untuk dihantarkan kepada Raja atau Kaisar mereka sebagai tanda kebanggaan, kemasyhuran dan kegembiraan. Pada masa Khalifah Abu Bakar ra. dalam suatu peperangan dengan Romawi, tentara Islam dapat mengalahkan tentara Romawi dan memenggal kepala panglimanya untuk dihantarkan kepada Khalifah Abu Bakar ra. melalui Atbah bin Amir ra., menerima hal ini Khalifah menyesali dengan sangat akan perbuatan itu, Atbah bin Amir ra. berkata, ”Wahai pewaris/pengganti Nabi, mereka juga membuat kepada kami dengan cara yang sama”. Khalifah menjawab, ”Oh apakah kita akan mengikuti adat istiadat dan amalan orang-orang Roma dan Parsi, jangan bawa kepadaku kepala siapapun. Kitab Allah dan Sunnah Rasul sudah cukup untuk kita ikuti”.
Satu ketika Khalifah Umar bin Khattab ra. bepergian ke Syria terdapat tanah becek dan berair disatu jalan. Beliau turun dari untanya, menanggalkan sarung kakinya yang terbuat dari kulit dan meletakkannya diatas bahu, lalu berjalan dilumpur dan air tersebut sambil memegang tali unta ditangannya. Abu Ubaidah ra. berkata, ”Kamu telah melakukan sesuatu yang mana orang Syria sangat memandang rendah hal tersebut”. Umar ra. menepuk Abu Ubaidah ra. dan berkata, ”Jika ada orang selain kamu, yang menyatakan demikian, sudah tentu aku akan menghukumnya dengan hukuman yang dapat dijadikan peringatan. Kita dahulu hina dan Allah telah memuliakan kita dengan Islam. Kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Allah, maka Allah akan menghina kita”.
Kejayaan dan kemakmuran orang-orang Islam hanyalah terletak didalam mengikuti agama ini dengan sepenuhnya. Orang Islam dizaman awal telah mencapai mercu kejayaan dengan beramal agama sepenuhnya, siapapun yang mengetahui sejarahnya tidak dapat menafikkannya. Menentangnya dapat menjerumuskan kita kepada kehancuran dan kemusnahan didunia dan akherat. Walaupun berbagai konsep yang kita ajukan, beribu-ribu keputusan dibuat, berapapun terbitan artikel dan buletin disebar dan dibaca bila semuanya tidak menurut perintah Allah dan cara Nabi-Nya tidak akan mencapai kejayaan. Cuma hanya satu jalan saja mengikuti perintah Allah dengan menjalankan sunnahnya serta menjauhkan dari dosa-dosa dengan berpegang kepada agama-Nya saja. Disini marilah kita berfikir satu perkara lagi. Katakanlah pada masa ini Islam dihina, kesemua perintah-Nya dianggap kuno, ulamanya dianggap berpandangan singkat tetapi adakah suatu kebenaran bahwa orang tua kita dahulu telah menaklukkan beribu-ribu kota, meruntuhkan dua negara super power (Romawi dan Persia) waktu itu. Mereka juga telah mengilhamkan berjuta-juta manusia memeluk Islam dan mendirikan Daulah Islamiyah serta kerajaan Islam sesudahnya di berbagai kawasan, sedang mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Islam, dimanakah agama Islam saat ini, apakah hanya dikitab-kitab saja bukan pada umatnya.
Khalifah Abu Bakar ra. telah mengutus Khalid bin Walid ra. sebagai panglima perang untuk menaklukkan orang-orang murtad, nasihatnya pada waktu itu, ”Inilah kalimat Syahadat ..........., Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Barangsiapa menafikkan azas ini, hendaklah kamu berjuang menentangnya”.
Khalifah Umar bin Khattab ra. telah mengutus Atbah bin Ghazwan ra. sebagai panglima perang melawan Persia, ketika itu Beliau memberi arahan : ”Senantiasa menjaga ketaqwaan semaksimal mungkin. Berhati-hatilah menjalankan keadilan bila memberi keputusan. Dirikanlah shalat dimasa yang ditentukan, ingatlah kepada Allah dimana tempat dan memuji-Nya”.
Pada masa Abu Bakar ra. menjadi
Khalifah, terdapat satu peperangan besar yang masyhur di Ajnadin, panglima Romawi telah mengirim mata-mata yang berbangsa Arab untuk mengetahui kedudukan orang-orang Islam dan mempelajari arah atau gerakan orang-orang Islam sepanjang siang dan malam, sebagai orang Arab dia mudah saja bergaul dengan mereka. Berikut ini laporannya kepada panglima Romawi, ”Orang-orang ini Rahib (ahli ibadah) diwaktu malam dan Ksatria (penunggang kuda) diwaktu siang, yaitu sujud didalam shalat sepanjang malam dan diatas kuda sepanjang hari. Jika anak raja mereka sendiri mencuri sesuatu, tangannya akan dipotong demi keadilan dan jika dia sendiri melakukan perzinahan, ia juga akan dirajam dengan batu hingga mati”. Banyak peristiwa begini telah diriwayatkan didalam kitab-kitab hadits, inilah kenyataan (hakikat) yang mengagumkan hati orang-orang kafir. Setelah mendengar laporan mata-mata tersebut panglima Romawi itupun berkata, ”Jika apa yang kamu laporkan benar, maka lebih baik kita ditanam hidup-hidup didalam bumi dari pada menghadapi mereka diatas bumi”. Suatu ketika terdapat tahanan dari Romawi yang melarikan diri dari orang-orang Islam. Kaisar Romawi bertanya tentang keadaan orang Islam ketika orang tersebut ditawan. Dia menjawab, ”Bahwa orang-orang itu adalah Rahib (ahli ibadah) diwaktu malam dan Ksatria (da’i) diwaktu siang, mereka tidak mengambil sesuatu walaupun dari kafir dzimmi (orang kafir yang dilindungi) tanpa membayar harganya, bila bertemu mereka saling mengucapkan dan menjawab salam”. Kaisar Romawi berkata, ”Jika laporan itu benar, maka mereka akan menjadi raja-raja bagi kerajaannya”.
Semasa peperangan Antakia, Yazid bin
Abi Sufyan ra. mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar ra. memberi laporan : ”Puji-pujian bagi Allah dan sejahtera atas Rasul-Nya, daku merasa sukacita menyatakan bahwa Kaisar Romawi mengetahui akan penyerbuan kami kearahnya, Allah telah mengisikan kehatinya dengan ketakutan dan kegentaran dan dia mengelakkan pertempuran dan mengundurkan diri ke Antakia”. Sebagai jawabannya, ”Suratmu telah memberitahu akan kegentaran Kaisar Romawi dan pengundurannya ke Antakia. Sesungguhnya Allah telah menolong kita melalui Malaikat-Malaikat-Nya bila kita menyertai peperangan dibawah sunnah Rasulullah SAW. Memang sebenarnya kepada agama ini saja kita menyeru manusia dan atas sebabnya jua Allah SWT. telah menolong kita dengan menggentarkan musuh”.
Romawi mempunyai jumlah tentara yang sangat banyak sedangkan orang Islam terbatas. Amr bin ’Ash ra. memberitahu Khalifah Abu Bakar ra. mengenai keadaan tersebut, sebagai jawaban Abu Bakar ra. menulis, ”Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah tentara yang sedikit, kamu pasti dapat dikalahkan walaupun jumlah tentara yang banyak dari musuh jika kamu terlibat didalam dosa-dosa”. Rasulullah SAW. telah menerangkan dengan sepenuhnya jalan yang membawa kepada kebaikan dan kemajuan atau jalan yang membawa kepada kemaksiatan dan kejatuhan. Orang-orang dahulu dari kita yang shalih (taqwa) telah mengikutinya dan telah berjaya, sedangkan kita tidak menyadari akan nilai sabdanya dan tidak pula mengambil pelajaran dari para pendahulu kita.
Wallahu a’lam.
terdiam berputus asa”. (Al An’am : 44)
T
erdapat banyak hadits yang menerangkan bahwa kenikmatan yang diberikan kepada orang yang tidak beriman disebabkan amal baik mereka atau penangguhan terhadap dosa-dosa mereka didunia ini. Siapa saja dari masyarakat yang tidak beriman yang melakukan perbuatan baik pasti cepat maju dan mewah, dan mereka ditangguhkan adzab atas dosa-dosa mereka, sedangkan orang-orang mukmin dikenakan adzab didunia ini atas dosa-dosa yang mereka buat.
Sebuah hadits menyebutkan ujian bala’ senantiasa bersama orang mukmin, dia diuji dengan dirinya, hartanya, anak-anaknya dan sebagainya, sehingga tertebus amalan-amalan buruknya dan dia meninggalkan dunia ini dalam keadaan bebas dari dosa-dosa. (Tirmidzi)
Penindasan, kezholiman, kelicikan dan pencabulan adalah perbuatan yang akan diperhitungkan didunia, baik orang Islam maupun non Islam. Begitu juga mereka yang mencemooh dan mengejek para Nabi dan Rasul Allah, mereka akan di adzab oleh Allah. Dalam keadaan begini Allah tidak akan menangguhkan hukuman keatas mereka. Beberapa peristiwa yang meriwayatkan kemusnahan kaum terdahulu yang telah diceritakan di dalam Al-Qur’an adalah bukti dan saksi yang nyata atas perkara ini. Bila suatu kaum jatuh atas sebab kezholiman, adzab dari langit datang menolong orang yang tertindas. Sesuai Firman-Nya : “Aku mendengar panggilan orang yang tertindas dan memperkenankan panggilannya, walaupun dia orang kafir. Maka dengan ini hendaklah kita semua sadar bahwa siapa saja yang menindas (tidak membuat keadilan), dia pada hakikatnya tidak menindas orang lain tetapi telah menindas dirinya sendiri.
Kejayaan bagi orang-orang Islam dan orang kafir tidaklah sama, Allah telah memisahkan mereka. Hanya kejahilan dan ketidak sadaran terhadap agama yang menyebabkan kita berfikir, apa saja yang memberikan kejayaan kepada orang-orang kafir akan membawa kesejahteraan orang-orang Islam juga. Tanamkan dihati bahwa tempat yang sebenarnya bagi mengadzab orang-orang kafir terhadap dosanya ialah di akherat dan kadangkala saja didunia disebabkan beberapa alasan tertentu. Bagi perbuatan baik yang mereka lakukan, maka Allah membalas didunia ini saja, tidak diakherat. Alasan ini adalah munasabah karena orang kafir tidak mengakui akherat maka mengapa pula menerima ganjaran diakherat.
Seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra. mengenai maksud surat Hud ayat 15. Beliau mengatakan bahwa harga amal kebaikan mereka dibayar dengan kesehatan dan kesenangan, dengan anak-anak dan harta. Tetapi ingat, ini tidaklah bermakna bahwa Allah wajib membayar (mengganjari) mereka didunia, hal ini di batasi dengan syarat yang telah diterangkan pada surat Bani Israil ayat 18, jika Allah menghendaki.
Said bin Jubair ra. telah memberikan penerangan yang sama terhadap surat Hud diatas. Amalan kebaikan mereka akan diganjari didunia ini. Qatadah ra. juga meriwayatkan bahwa Allah SWT. memberikan ganjaran keatas perbuatan baik mereka didunia ini dan apabila tiba hari akherat, tidak ada satu perbuatan baikpun yang belum diberikan ganjaran. Dan bagi orang-orang mukmin amal kebaikan mereka akan diganjari didunia ini dan (diatas keimanan mereka) diganjari juga di akherat. Mujahid rah. a mengatakan perbuatan baik orang kafir akan diganjari sepenuhnya didunia ini. Maimun bin Mehran mengatakan jika seseorang ingin mengetahui derajatnya dalam pandangan Allah mestilah melihat amalnya sendiri, karena dia akan mendapatkan hasil dari perbuatannya, apakah ia orang mukmin atau kafir. Orang mukmin diganjari didunia dan akherat, sedangkan orang kafir dibayar kembali hanya didunia ini.
Muhammad bin Ka’ab rah. a menyatakan bahwa orang kafir yang telah melakukan perbuatan baik walaupun sebesar zarrahpun pasti diganjari didunia ini melalui anggota badannya, keturunannya dan keluarganya yaitu melalui kesehatan badan dan kekayaan/keuangan sehingga apabila dia meninggal dunia ini, tidak ada satu perbuatan baikpun yang belum diganjari. Dan bagi orang Islam yang telah melakukan perbuatan maksiat walaupun sebesar zarrah akan diadzab didunia ini melalu anggota badannya, keturunannya dan keluarganya yaitu melalui berbagai penderitaan jasad dan keuangan sehingga apabila ia meninggal dunia tidak ada satu perbuatan maksiat yang belum dibalas dengan siksaan.
Sulaiman bin Amir ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., ”Bapakku begitu menjaga hubungan keluarga, menepati janji dan melayani tamu dengan baik dan ramah. Apakah amalan ini akan memberikan faedah kepadanya?” Rasulullah SAW. bertanya, ”Apakah ia meninggal sebelum kedatangan Islam?” Beliau menjawab, ”Ya”. Rasulullah SAW. bersabda, ”Dia (bapakmu) tidak akan diberi ganjaran di akherat walau bagaimanapun, keturunannya akan mendapat faedah. Kamu tidak akan mendapat kehinaan, dimalukan atau kemiskinan disebabkan amal kebaikan yang dilakukan oleh bapakmu yang telah meninggal dunia”.
Berdasarkan penerangan diatas kita dapati sebagian orang kafir maju dan jaya didunia, padahal tidak terdapat amalan baik mereka. Ini mungkin disebabkan amalan baik dari leluhurnya. Dari Anas ra., Rasulullah SAW. bersabda, ”Siapa yang inginkan sesuatu sedangkan masih bergelumang dengan perbuatan maksiat maka dia tidak akan mendapat apa yang diinginkan itu. Hasil dari usahanya bertentangan dengan yang diinginkannya bahkan akan lebih dekat kepada apa yang ditakutinya (tidak diinginkan)”. Orang-orang Islam yang masih melakukan dosa-dosa dan perbuatan buruk yang mengharapkan kemajuan dan kemakmuran, akan senantiasa dinafikan dari itu, dan menginginkan kemewahan orang kafir dengan mengikuti jejak mereka, tanpa segan dan malu adalah asbab kegagalan.
Ada suatu adat bagi tentara Persia dan Romawi, apabila tentara mereka dapat menaklukkan musuh, maka mereka akan memenggal panglima perang musuh untuk dihantarkan kepada Raja atau Kaisar mereka sebagai tanda kebanggaan, kemasyhuran dan kegembiraan. Pada masa Khalifah Abu Bakar ra. dalam suatu peperangan dengan Romawi, tentara Islam dapat mengalahkan tentara Romawi dan memenggal kepala panglimanya untuk dihantarkan kepada Khalifah Abu Bakar ra. melalui Atbah bin Amir ra., menerima hal ini Khalifah menyesali dengan sangat akan perbuatan itu, Atbah bin Amir ra. berkata, ”Wahai pewaris/pengganti Nabi, mereka juga membuat kepada kami dengan cara yang sama”. Khalifah menjawab, ”Oh apakah kita akan mengikuti adat istiadat dan amalan orang-orang Roma dan Parsi, jangan bawa kepadaku kepala siapapun. Kitab Allah dan Sunnah Rasul sudah cukup untuk kita ikuti”.
Satu ketika Khalifah Umar bin Khattab ra. bepergian ke Syria terdapat tanah becek dan berair disatu jalan. Beliau turun dari untanya, menanggalkan sarung kakinya yang terbuat dari kulit dan meletakkannya diatas bahu, lalu berjalan dilumpur dan air tersebut sambil memegang tali unta ditangannya. Abu Ubaidah ra. berkata, ”Kamu telah melakukan sesuatu yang mana orang Syria sangat memandang rendah hal tersebut”. Umar ra. menepuk Abu Ubaidah ra. dan berkata, ”Jika ada orang selain kamu, yang menyatakan demikian, sudah tentu aku akan menghukumnya dengan hukuman yang dapat dijadikan peringatan. Kita dahulu hina dan Allah telah memuliakan kita dengan Islam. Kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Allah, maka Allah akan menghina kita”.
Kejayaan dan kemakmuran orang-orang Islam hanyalah terletak didalam mengikuti agama ini dengan sepenuhnya. Orang Islam dizaman awal telah mencapai mercu kejayaan dengan beramal agama sepenuhnya, siapapun yang mengetahui sejarahnya tidak dapat menafikkannya. Menentangnya dapat menjerumuskan kita kepada kehancuran dan kemusnahan didunia dan akherat. Walaupun berbagai konsep yang kita ajukan, beribu-ribu keputusan dibuat, berapapun terbitan artikel dan buletin disebar dan dibaca bila semuanya tidak menurut perintah Allah dan cara Nabi-Nya tidak akan mencapai kejayaan. Cuma hanya satu jalan saja mengikuti perintah Allah dengan menjalankan sunnahnya serta menjauhkan dari dosa-dosa dengan berpegang kepada agama-Nya saja. Disini marilah kita berfikir satu perkara lagi. Katakanlah pada masa ini Islam dihina, kesemua perintah-Nya dianggap kuno, ulamanya dianggap berpandangan singkat tetapi adakah suatu kebenaran bahwa orang tua kita dahulu telah menaklukkan beribu-ribu kota, meruntuhkan dua negara super power (Romawi dan Persia) waktu itu. Mereka juga telah mengilhamkan berjuta-juta manusia memeluk Islam dan mendirikan Daulah Islamiyah serta kerajaan Islam sesudahnya di berbagai kawasan, sedang mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Islam, dimanakah agama Islam saat ini, apakah hanya dikitab-kitab saja bukan pada umatnya.
Khalifah Abu Bakar ra. telah mengutus Khalid bin Walid ra. sebagai panglima perang untuk menaklukkan orang-orang murtad, nasihatnya pada waktu itu, ”Inilah kalimat Syahadat ..........., Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Barangsiapa menafikkan azas ini, hendaklah kamu berjuang menentangnya”.
Khalifah Umar bin Khattab ra. telah mengutus Atbah bin Ghazwan ra. sebagai panglima perang melawan Persia, ketika itu Beliau memberi arahan : ”Senantiasa menjaga ketaqwaan semaksimal mungkin. Berhati-hatilah menjalankan keadilan bila memberi keputusan. Dirikanlah shalat dimasa yang ditentukan, ingatlah kepada Allah dimana tempat dan memuji-Nya”.
Pada masa Abu Bakar ra. menjadi
Khalifah, terdapat satu peperangan besar yang masyhur di Ajnadin, panglima Romawi telah mengirim mata-mata yang berbangsa Arab untuk mengetahui kedudukan orang-orang Islam dan mempelajari arah atau gerakan orang-orang Islam sepanjang siang dan malam, sebagai orang Arab dia mudah saja bergaul dengan mereka. Berikut ini laporannya kepada panglima Romawi, ”Orang-orang ini Rahib (ahli ibadah) diwaktu malam dan Ksatria (penunggang kuda) diwaktu siang, yaitu sujud didalam shalat sepanjang malam dan diatas kuda sepanjang hari. Jika anak raja mereka sendiri mencuri sesuatu, tangannya akan dipotong demi keadilan dan jika dia sendiri melakukan perzinahan, ia juga akan dirajam dengan batu hingga mati”. Banyak peristiwa begini telah diriwayatkan didalam kitab-kitab hadits, inilah kenyataan (hakikat) yang mengagumkan hati orang-orang kafir. Setelah mendengar laporan mata-mata tersebut panglima Romawi itupun berkata, ”Jika apa yang kamu laporkan benar, maka lebih baik kita ditanam hidup-hidup didalam bumi dari pada menghadapi mereka diatas bumi”. Suatu ketika terdapat tahanan dari Romawi yang melarikan diri dari orang-orang Islam. Kaisar Romawi bertanya tentang keadaan orang Islam ketika orang tersebut ditawan. Dia menjawab, ”Bahwa orang-orang itu adalah Rahib (ahli ibadah) diwaktu malam dan Ksatria (da’i) diwaktu siang, mereka tidak mengambil sesuatu walaupun dari kafir dzimmi (orang kafir yang dilindungi) tanpa membayar harganya, bila bertemu mereka saling mengucapkan dan menjawab salam”. Kaisar Romawi berkata, ”Jika laporan itu benar, maka mereka akan menjadi raja-raja bagi kerajaannya”.
Semasa peperangan Antakia, Yazid bin
Abi Sufyan ra. mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar ra. memberi laporan : ”Puji-pujian bagi Allah dan sejahtera atas Rasul-Nya, daku merasa sukacita menyatakan bahwa Kaisar Romawi mengetahui akan penyerbuan kami kearahnya, Allah telah mengisikan kehatinya dengan ketakutan dan kegentaran dan dia mengelakkan pertempuran dan mengundurkan diri ke Antakia”. Sebagai jawabannya, ”Suratmu telah memberitahu akan kegentaran Kaisar Romawi dan pengundurannya ke Antakia. Sesungguhnya Allah telah menolong kita melalui Malaikat-Malaikat-Nya bila kita menyertai peperangan dibawah sunnah Rasulullah SAW. Memang sebenarnya kepada agama ini saja kita menyeru manusia dan atas sebabnya jua Allah SWT. telah menolong kita dengan menggentarkan musuh”.
Romawi mempunyai jumlah tentara yang sangat banyak sedangkan orang Islam terbatas. Amr bin ’Ash ra. memberitahu Khalifah Abu Bakar ra. mengenai keadaan tersebut, sebagai jawaban Abu Bakar ra. menulis, ”Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah tentara yang sedikit, kamu pasti dapat dikalahkan walaupun jumlah tentara yang banyak dari musuh jika kamu terlibat didalam dosa-dosa”. Rasulullah SAW. telah menerangkan dengan sepenuhnya jalan yang membawa kepada kebaikan dan kemajuan atau jalan yang membawa kepada kemaksiatan dan kejatuhan. Orang-orang dahulu dari kita yang shalih (taqwa) telah mengikutinya dan telah berjaya, sedangkan kita tidak menyadari akan nilai sabdanya dan tidak pula mengambil pelajaran dari para pendahulu kita.
Wallahu a’lam.
MENGGAPAI KEBERKAHAN
Berkah atau barakah merupakan sebuah kata yang penuh makna. Dari zaman ke zaman, umat Islam berlomba-lomba untuk mencari keberkahan tersebut di dalam setiap segi kehidupannya. Ada yang mengharapkan keberkahan rezeki, keberkahan ilmu, keberkahan tempat dan sebagainya.
Dalam hidup ini, setiap manusia tentu ingin memperoleh keberkahan dalam hidupnya. Karena itu, kita selalu berdo’a dan juga meminta orang lain mendoakan agar segala sesuatu yang kita miliki dan kita upayakan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
Secara harfiah berkah memiliki arti “tumbuh dan bertambah”. Dengan pengertian lain keberkahan adalah kebaikan yang bersumber dari Allah semata, yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya, sehingga apa yang kita peroleh dan kita miliki membawa pengaruh negatif, maka kita berarti tidak memperoleh keberkahan.
Allah SWT tidak memberikan keberkahan kepada semua manusia, Dia hanya akan memberi keberkahan itu kepada orang yang beriman dan bertaqwa kepanya. Janji Allah untuk memberikan keberkahan kepada orang yang beriman dan bertaqwa dikemukakan dalam firmannya yang artinya. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(Al-A’raf :96).
Keberkahan disebutkan juga dalam Hadis Rasulullah Saw. yang artinya :
“Ya Allah, berkatilah buah-buahan kami, berkatilah kota kami, berkatilah takaran sha’ kami dan berkatilah takaran mud kami.” (HR.Muslim).
Dari ayat dan hadis di atas membuktikan bahwa berkah sangat penting dan dibutuhkan. Jika Allah memberikan keberkahan kepada sesuatu, maka sesuatu itu akan mendapatkan kebaikkan yang banyak dan berkesinambungan. Karena manfaat berkah sangat besar, maka umat islam dari zaman kezaman berusaha mencari keberkahan tersebut dalam setiap celah kehidupan.
Apabila manusia baik secara pribadi, maupun kelompok atau masyarakat memperoleh keberkahan dari Allah SWT, maka kehidupannya akan selalu berjalan dengan baik, rizki yang diperoleh cukup bahkan melimpah, sedang ilmu dan amalnya selalu memberi manfaat yang besar dalam kehidupannya. Disinilah letak pentingnya bagi kita memahami apa sebenarnya keberkahan itu agar kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya.
Keberkahan tidak semata diukur dengan banyaknya harta benda yang kita miliki, banyak harta belum tentu berkah, sebab justru bisa mendatangkan malapetaka bagi kita. Bahkan, para ulama membagi keberkahan dalam tiga bentuk, yakni diantaranya :
Pertama, berkah dalam keturunan, yakni dengan lahirnya generasi yang sholeh. Generasi yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal sholehnya, ini merupakan suatu yang amat penting, apalagi terwujudnya generasi yang berkualitas yang merupakan dambaan bagi setiap manusia.
Kedua, berkah dalam soal waktu yang cukup tersedia dan dimanfaatkannya untuk kebaikkan, baik dalam bentuk mencari harta, memperluas ilmu maupun memperbanyak amal saleh, karena itu Allah menganugrahi kepada kita waktu, baik siang maupun malam Sudah begitu banyak manusia yang mengalami kerugian dalam hidup, karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, sementara salah satu karakteristik waktu dengan baik, adalah tidak akan bisa kembali lagi. Karena itulah, setiap kita harus mengimani kebenaran Al-Qur’an yang merupakan wahyu dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam, tapi bagi orang yang diberkahi Allah maka dia bisa memanfaatkan waktu yang 24 jam itu semaksimal mungkin sehingga pencapaian sesuatu yang baik berhasil ditempuh dengan penggunaan waktu yang efisien dari Allah, sehingga tidak akan kita temukan kelemahannya didalamya, selanjutnya kita membaca serta menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, baik menyangkut aspek pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa
Ketiga, keberkahan dalam soal makanan yakni makanan yang halal dan baik, yaitu halal jenisnya dan juga halal dalam mendapatkannya, sehingga bagi orang yang diberkahi Allah, dia tidak menghalalkan segala cara dalam mencarinya untuk memperoleh nafkah. Disamping itu, makanan yang diberkahi juga adalah halal atau baik, yakni yang sehat dan bergizi, sehinga makanan yang halal itu tidak hanya mengenyangkan tapi juga untuk menghasilkan tenaga yang kuat untuk selanjutnya dengan tenaga yang kuat itu digunakan untuk melaksanakan dan menegakkan nilai-nilai kebaikan sebagai bukti dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Karena itulah, agar apa yang kita makan juga membawa keberkahan yang lebih banyak lagi, meskipun telah halal dan baik. Makanan itu harus dimakan sewajarnya atau secukupnya, karena itu Allah sangat melarang manusia berlebih-lebihan dalam makan maupun minum.
Jika sekelompok orang makan bersama sekedar menghapus rasa lapar dan tidak dengan rakus serta masing-masing mengutamakan yang lain; masing-masing tidak marah ketika temannya makan lebih banyak darinya, maka mereka akan diberkati.
Diceritakan bahwa sejumlah orang saleh pada suatu malam makan bersama dalam sebuah jamuan yang mereka adakan. Di dalam hati masing-masing telah berniat untuk mengutamakan temannya, tanpa sepengetahuan yang lain. Saat hendak makan, tiba-tiba lampu padam. Merekapun duduk dihadapan hidangan yang telah disediakan, cukup lama sesuai waktu makan sembari bersandiwara seakan-akan ia sedang menyantap makanan yang terhidang. Ketika bangkit meninggalkan tempat makan tersebut, ternyata semua hidangan itu masih utuh, tidak kurang sedikit pun.
Dalam kisah lain diceritakan bahwa salah seorang sahabat mendapat hadiah sebuah kepala kambing, ia kemudian mengirimkan kepala kambing itu kepada temannya dan temannya tersebut menghadiahkan kepala kambing itu kepada temannya yang lain, dan temannya itu menghadiahkan kepada temannya yang lain pula, demikian seterusnya hingga kepala kambing itu kembali kepada orang pertama sekali menghadiahkannya. Mereka melakukan semua ini, padahal mereka semua sangat membutuhkannya.
Demikianlah keindahan orang-orang yang terdahulu bisa berbagi dan apa adanya. Adapun orang saat ini, seorang yang mempunyai makanan yang sangat berlebih, dan mendengar seorang miskin meminta sesuap makanan, ia tidak memberinya apapun, malah kalaupun diberikannya disertai dengan sumpah serapah yang menyakitkan.
Mengutamakan orang lain dan membantunya merupakan dua hal yang berbeda. Ketika kita dalam keadaan membutuhkan, kemudian kita memberikan semua yang kita miliki kepada orang lain, yang sedang dalam keadaan yang membutuhkan juga. Sedangkan kalau kita dalam keadaan membutuhkan, kemudian kita memberikan sebagian yang kita miliki kepada orang lain, maka kita disebut sebagai membantu orang lain. Disinilah perlunya kita sesama umat islam dibutuhkan saling membantu satu dengan yang lainnya, agar kehidupan kita dimasa sulit dapat teratasi, dan bagi orang-orang yang memiliki kelebihan, dapat mensedekahkannya kepada saudara-saudara kita yang membutuhkanya.
Bagi kita kita umat islam, Al-Qur’an merupakan sumber keberkahan, sehingga apabila kita menjalankan pesan-pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan berpedoman kepadanya dalam berbagai aspek kehidupan, niscaya kita akan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
Setelah membaca uraian singkat ini, semoga kiranya kita kian menyadari bahwa keberkahan dari Allah yang kita dambakan itu, untuk memperolehnya ternyata harus dengan berdoa dan berusaha secara bersungguh-sungguh, yakni dalam bentuk memantapkan iman dan taqwa, serta selalu menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam hidup ini. Semoga bermanfaat
“Barang siapa menempatkan dirinya dihadapan Allah seperti budak didapan tuannya, maka dia akan meraih semua kesumpurnaan”
Dalam hidup ini, setiap manusia tentu ingin memperoleh keberkahan dalam hidupnya. Karena itu, kita selalu berdo’a dan juga meminta orang lain mendoakan agar segala sesuatu yang kita miliki dan kita upayakan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
Secara harfiah berkah memiliki arti “tumbuh dan bertambah”. Dengan pengertian lain keberkahan adalah kebaikan yang bersumber dari Allah semata, yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya, sehingga apa yang kita peroleh dan kita miliki membawa pengaruh negatif, maka kita berarti tidak memperoleh keberkahan.
Allah SWT tidak memberikan keberkahan kepada semua manusia, Dia hanya akan memberi keberkahan itu kepada orang yang beriman dan bertaqwa kepanya. Janji Allah untuk memberikan keberkahan kepada orang yang beriman dan bertaqwa dikemukakan dalam firmannya yang artinya. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(Al-A’raf :96).
Keberkahan disebutkan juga dalam Hadis Rasulullah Saw. yang artinya :
“Ya Allah, berkatilah buah-buahan kami, berkatilah kota kami, berkatilah takaran sha’ kami dan berkatilah takaran mud kami.” (HR.Muslim).
Dari ayat dan hadis di atas membuktikan bahwa berkah sangat penting dan dibutuhkan. Jika Allah memberikan keberkahan kepada sesuatu, maka sesuatu itu akan mendapatkan kebaikkan yang banyak dan berkesinambungan. Karena manfaat berkah sangat besar, maka umat islam dari zaman kezaman berusaha mencari keberkahan tersebut dalam setiap celah kehidupan.
Apabila manusia baik secara pribadi, maupun kelompok atau masyarakat memperoleh keberkahan dari Allah SWT, maka kehidupannya akan selalu berjalan dengan baik, rizki yang diperoleh cukup bahkan melimpah, sedang ilmu dan amalnya selalu memberi manfaat yang besar dalam kehidupannya. Disinilah letak pentingnya bagi kita memahami apa sebenarnya keberkahan itu agar kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya.
Keberkahan tidak semata diukur dengan banyaknya harta benda yang kita miliki, banyak harta belum tentu berkah, sebab justru bisa mendatangkan malapetaka bagi kita. Bahkan, para ulama membagi keberkahan dalam tiga bentuk, yakni diantaranya :
Pertama, berkah dalam keturunan, yakni dengan lahirnya generasi yang sholeh. Generasi yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal sholehnya, ini merupakan suatu yang amat penting, apalagi terwujudnya generasi yang berkualitas yang merupakan dambaan bagi setiap manusia.
Kedua, berkah dalam soal waktu yang cukup tersedia dan dimanfaatkannya untuk kebaikkan, baik dalam bentuk mencari harta, memperluas ilmu maupun memperbanyak amal saleh, karena itu Allah menganugrahi kepada kita waktu, baik siang maupun malam Sudah begitu banyak manusia yang mengalami kerugian dalam hidup, karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, sementara salah satu karakteristik waktu dengan baik, adalah tidak akan bisa kembali lagi. Karena itulah, setiap kita harus mengimani kebenaran Al-Qur’an yang merupakan wahyu dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam, tapi bagi orang yang diberkahi Allah maka dia bisa memanfaatkan waktu yang 24 jam itu semaksimal mungkin sehingga pencapaian sesuatu yang baik berhasil ditempuh dengan penggunaan waktu yang efisien dari Allah, sehingga tidak akan kita temukan kelemahannya didalamya, selanjutnya kita membaca serta menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, baik menyangkut aspek pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa
Ketiga, keberkahan dalam soal makanan yakni makanan yang halal dan baik, yaitu halal jenisnya dan juga halal dalam mendapatkannya, sehingga bagi orang yang diberkahi Allah, dia tidak menghalalkan segala cara dalam mencarinya untuk memperoleh nafkah. Disamping itu, makanan yang diberkahi juga adalah halal atau baik, yakni yang sehat dan bergizi, sehinga makanan yang halal itu tidak hanya mengenyangkan tapi juga untuk menghasilkan tenaga yang kuat untuk selanjutnya dengan tenaga yang kuat itu digunakan untuk melaksanakan dan menegakkan nilai-nilai kebaikan sebagai bukti dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Karena itulah, agar apa yang kita makan juga membawa keberkahan yang lebih banyak lagi, meskipun telah halal dan baik. Makanan itu harus dimakan sewajarnya atau secukupnya, karena itu Allah sangat melarang manusia berlebih-lebihan dalam makan maupun minum.
Jika sekelompok orang makan bersama sekedar menghapus rasa lapar dan tidak dengan rakus serta masing-masing mengutamakan yang lain; masing-masing tidak marah ketika temannya makan lebih banyak darinya, maka mereka akan diberkati.
Diceritakan bahwa sejumlah orang saleh pada suatu malam makan bersama dalam sebuah jamuan yang mereka adakan. Di dalam hati masing-masing telah berniat untuk mengutamakan temannya, tanpa sepengetahuan yang lain. Saat hendak makan, tiba-tiba lampu padam. Merekapun duduk dihadapan hidangan yang telah disediakan, cukup lama sesuai waktu makan sembari bersandiwara seakan-akan ia sedang menyantap makanan yang terhidang. Ketika bangkit meninggalkan tempat makan tersebut, ternyata semua hidangan itu masih utuh, tidak kurang sedikit pun.
Dalam kisah lain diceritakan bahwa salah seorang sahabat mendapat hadiah sebuah kepala kambing, ia kemudian mengirimkan kepala kambing itu kepada temannya dan temannya tersebut menghadiahkan kepala kambing itu kepada temannya yang lain, dan temannya itu menghadiahkan kepada temannya yang lain pula, demikian seterusnya hingga kepala kambing itu kembali kepada orang pertama sekali menghadiahkannya. Mereka melakukan semua ini, padahal mereka semua sangat membutuhkannya.
Demikianlah keindahan orang-orang yang terdahulu bisa berbagi dan apa adanya. Adapun orang saat ini, seorang yang mempunyai makanan yang sangat berlebih, dan mendengar seorang miskin meminta sesuap makanan, ia tidak memberinya apapun, malah kalaupun diberikannya disertai dengan sumpah serapah yang menyakitkan.
Mengutamakan orang lain dan membantunya merupakan dua hal yang berbeda. Ketika kita dalam keadaan membutuhkan, kemudian kita memberikan semua yang kita miliki kepada orang lain, yang sedang dalam keadaan yang membutuhkan juga. Sedangkan kalau kita dalam keadaan membutuhkan, kemudian kita memberikan sebagian yang kita miliki kepada orang lain, maka kita disebut sebagai membantu orang lain. Disinilah perlunya kita sesama umat islam dibutuhkan saling membantu satu dengan yang lainnya, agar kehidupan kita dimasa sulit dapat teratasi, dan bagi orang-orang yang memiliki kelebihan, dapat mensedekahkannya kepada saudara-saudara kita yang membutuhkanya.
Bagi kita kita umat islam, Al-Qur’an merupakan sumber keberkahan, sehingga apabila kita menjalankan pesan-pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan berpedoman kepadanya dalam berbagai aspek kehidupan, niscaya kita akan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
Setelah membaca uraian singkat ini, semoga kiranya kita kian menyadari bahwa keberkahan dari Allah yang kita dambakan itu, untuk memperolehnya ternyata harus dengan berdoa dan berusaha secara bersungguh-sungguh, yakni dalam bentuk memantapkan iman dan taqwa, serta selalu menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam hidup ini. Semoga bermanfaat
“Barang siapa menempatkan dirinya dihadapan Allah seperti budak didapan tuannya, maka dia akan meraih semua kesumpurnaan”
Keutamaan dan Faedah Tauhid
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat
petunjuk. (Al An’am : 82)
S
ahabat Abdullah bin Mas’ud ra. menerangkan, ketika ayat ini dinuzulkan terjadilah keragu-raguan dikalangan kaum muslimin. Mereka berkata : Siapakah diantara kita yang tidak melakukan kezhaliman atas diri sendiri.
Sehubungan dengan pertanyaan para sahabat itu maka Rasulullah SAW. bersabda : “Maksud kezhaliman itu adalah syirik. Belumkah kamu mendengar nasihat Luqman Al Hakim kepada anaknya, Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. (Bukhari, Muslim)
Ayat diatas memberi berita gembira bagi orang-orang yang beriman, yang meng-Esa-kan Allah secara murni, yang tidak mencampur adukkan keimanan dengan kesyirikan, mereka akan memperoleh keamanan dan ketentraman dari Allah di akherat.
Seseorang berada dalam hukum kemanusiaannya, apabila tidak dalam pemeliharaan-Nya, tentu akan tergelincir. Berada dalam kemaksiatan terhadap Allah. Rasulullah SAW. bersabda : ”Siapa saja bersaksi dengan sesungguhnya tidak ada ilah selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba, utusan-Nya. Isa adalah hamba, utusan dan kalimat-Nya yang diturunkan kepada Maryam dan ruh yang diutus dari-Nya dan Surga itu benar, Neraka itu benar, maka dia berhak masuk Surga. Allah akan memasukkan dia kedalam Surga sesuai amal perbuatannya.
Dalam hadits qudtsi Allah SWT. berfirman, Wahai anak Adam, walaupun kamu berbuat dosa sebesar isi dunia, kemudian kamu tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan yang memenuhi dunia pula untuk mengampuni dosa-dosamu. (Tirmidzi)
Dengan demikian betapa pentingnya tauhid bagi kehidupan seorang muslim. Dengan bertauhid ia akan mendatangkan ampunan. Disamping mengenai keutamaan tauhid tersebut maka tauhid memiliki faedah-faedah, manakala tauhid itu benar-benar diupayakan, direalisasikan dalam kehidupan baik secara individu (perseorangan) maupun secara jemaah.
Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya hakikatut Tauhid, tauhid akan membuahkan buah yang manis dalam arti kehidupan ini.
Tauhid akan memberikan buahnya antara lain :
1. Memerdekakan seseorang dari beribadah dan khudu’ (merendahkan diri) selain Allah. Tauhid akan bisa memerdekakan akal pikiran seseorang dari bentuk khurafat. Memerdekakan kehidupan dari perangai ke-Fir’aun-an.
2. Menjadikan kepribadian penuh hiasan. Tauhid bakal memberikan arahan hidup yang jelas. Ia tidak terombang ambing oleh berhala-berhala yang dipertuhankan oleh musyrikin. Orang yang bertauhid hanya dipenjara oleh syariat Islam saja. Mereka bertauhid mau dipenjara aturan-aturan Allah saja.
3. Dalam Al-Qur’an dikisahkan tentang Nabi Yusuf AS. yang telah berkata : ”Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang lebih baik, Tuhan-Tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Yusuf : 39).
4. Tauhid sumber ketentraman umat manusia. Sebab pemiliknya akan dipenuhi ketentraman dalam jiwanya. Tidak ada rasa takut, kecuali hanya kepada Allah SWT. Semua lobang rezeki telah tertutup dan hanya kepada Allah saja mereka sandarkan semuanya.
5. Tauhid sumber kekuatan jiwa. Tauhid memberikan kekuatan jiwa kepada pemiliknya. Mereka hanya berharap dan bertawakkal kepada Allah. Mereka ridho dan sabar atas ketentuannya maupun musibah-Nya. Orang-orang yang bertauhid akan senantiasa berpegang teguh kepada sabda Rasulullah SAW. : ”Apabila kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu minta pertolongan, maka mintalah kepada Allah semata”. (Tirmidzi). Jangan sampai kita selalu menyembah-Nya di dalam shalat tetapi keseharian kita malah minta kepada selain-Nya, dalam surat Al Fatihah disebutkan ”hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan”, meminta kepada batu, jenis uang lama (uang Soekarno) untuk kesembuhan penyakit dan lainnya merupakan kesyirikan yang berat disis Allah, karena semua itu merupakan tipuan Iblis untuk menjerumuskan manusia kedalam kebinasaan. Memang pengobatan melalui tipuan Iblis dapat juga mengalami kesembuhan, karena semua permintaan Iblis dikabulkan-Nya, jangankan minta kesembuhan minta panjang umur sampai yaumul Qiyamahpun dikabulkan Allah.
6. Mereka selalu mengingat firman Allah SWT. Artinya : ”Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkan melainkan Dia sendiri”. (Al An’am : 17)
7. Tauhid juga merupakan dasar fundamental persaudaraan dan persamaan hak. Karena Allah SWT. saja merupakan sentral peribadatan.
Itulah buah-buah tauhid yang mesti kita panen sebagai konsekuensi logis, bahwa kita telah menyatakan diri sebagai muslim dan terus berupaya menyuburkan iman dan Islam dalam dada, sehingga mencapai derajat insan muttaqin.
Wallahu a’lam
petunjuk. (Al An’am : 82)
S
ahabat Abdullah bin Mas’ud ra. menerangkan, ketika ayat ini dinuzulkan terjadilah keragu-raguan dikalangan kaum muslimin. Mereka berkata : Siapakah diantara kita yang tidak melakukan kezhaliman atas diri sendiri.
Sehubungan dengan pertanyaan para sahabat itu maka Rasulullah SAW. bersabda : “Maksud kezhaliman itu adalah syirik. Belumkah kamu mendengar nasihat Luqman Al Hakim kepada anaknya, Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. (Bukhari, Muslim)
Ayat diatas memberi berita gembira bagi orang-orang yang beriman, yang meng-Esa-kan Allah secara murni, yang tidak mencampur adukkan keimanan dengan kesyirikan, mereka akan memperoleh keamanan dan ketentraman dari Allah di akherat.
Seseorang berada dalam hukum kemanusiaannya, apabila tidak dalam pemeliharaan-Nya, tentu akan tergelincir. Berada dalam kemaksiatan terhadap Allah. Rasulullah SAW. bersabda : ”Siapa saja bersaksi dengan sesungguhnya tidak ada ilah selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba, utusan-Nya. Isa adalah hamba, utusan dan kalimat-Nya yang diturunkan kepada Maryam dan ruh yang diutus dari-Nya dan Surga itu benar, Neraka itu benar, maka dia berhak masuk Surga. Allah akan memasukkan dia kedalam Surga sesuai amal perbuatannya.
Dalam hadits qudtsi Allah SWT. berfirman, Wahai anak Adam, walaupun kamu berbuat dosa sebesar isi dunia, kemudian kamu tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan yang memenuhi dunia pula untuk mengampuni dosa-dosamu. (Tirmidzi)
Dengan demikian betapa pentingnya tauhid bagi kehidupan seorang muslim. Dengan bertauhid ia akan mendatangkan ampunan. Disamping mengenai keutamaan tauhid tersebut maka tauhid memiliki faedah-faedah, manakala tauhid itu benar-benar diupayakan, direalisasikan dalam kehidupan baik secara individu (perseorangan) maupun secara jemaah.
Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya hakikatut Tauhid, tauhid akan membuahkan buah yang manis dalam arti kehidupan ini.
Tauhid akan memberikan buahnya antara lain :
1. Memerdekakan seseorang dari beribadah dan khudu’ (merendahkan diri) selain Allah. Tauhid akan bisa memerdekakan akal pikiran seseorang dari bentuk khurafat. Memerdekakan kehidupan dari perangai ke-Fir’aun-an.
2. Menjadikan kepribadian penuh hiasan. Tauhid bakal memberikan arahan hidup yang jelas. Ia tidak terombang ambing oleh berhala-berhala yang dipertuhankan oleh musyrikin. Orang yang bertauhid hanya dipenjara oleh syariat Islam saja. Mereka bertauhid mau dipenjara aturan-aturan Allah saja.
3. Dalam Al-Qur’an dikisahkan tentang Nabi Yusuf AS. yang telah berkata : ”Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang lebih baik, Tuhan-Tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Yusuf : 39).
4. Tauhid sumber ketentraman umat manusia. Sebab pemiliknya akan dipenuhi ketentraman dalam jiwanya. Tidak ada rasa takut, kecuali hanya kepada Allah SWT. Semua lobang rezeki telah tertutup dan hanya kepada Allah saja mereka sandarkan semuanya.
5. Tauhid sumber kekuatan jiwa. Tauhid memberikan kekuatan jiwa kepada pemiliknya. Mereka hanya berharap dan bertawakkal kepada Allah. Mereka ridho dan sabar atas ketentuannya maupun musibah-Nya. Orang-orang yang bertauhid akan senantiasa berpegang teguh kepada sabda Rasulullah SAW. : ”Apabila kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu minta pertolongan, maka mintalah kepada Allah semata”. (Tirmidzi). Jangan sampai kita selalu menyembah-Nya di dalam shalat tetapi keseharian kita malah minta kepada selain-Nya, dalam surat Al Fatihah disebutkan ”hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan”, meminta kepada batu, jenis uang lama (uang Soekarno) untuk kesembuhan penyakit dan lainnya merupakan kesyirikan yang berat disis Allah, karena semua itu merupakan tipuan Iblis untuk menjerumuskan manusia kedalam kebinasaan. Memang pengobatan melalui tipuan Iblis dapat juga mengalami kesembuhan, karena semua permintaan Iblis dikabulkan-Nya, jangankan minta kesembuhan minta panjang umur sampai yaumul Qiyamahpun dikabulkan Allah.
6. Mereka selalu mengingat firman Allah SWT. Artinya : ”Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkan melainkan Dia sendiri”. (Al An’am : 17)
7. Tauhid juga merupakan dasar fundamental persaudaraan dan persamaan hak. Karena Allah SWT. saja merupakan sentral peribadatan.
Itulah buah-buah tauhid yang mesti kita panen sebagai konsekuensi logis, bahwa kita telah menyatakan diri sebagai muslim dan terus berupaya menyuburkan iman dan Islam dalam dada, sehingga mencapai derajat insan muttaqin.
Wallahu a’lam
Menjaga Hati
H
akikat kualitas hidup manusia dimulai dari hatinya, Karena itu disebutkan bahwa hati itu adalah kekuatan inti manusia. Dia adalah sekerat daging yang mampu mengalahkan kekuatan Jasad. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Ingatlah dalam jasad itu ada segumpal daging, jika dia baik, maka baiklah jasad seluruhnya, Jika ia rusak, maka rusaklah jasad itu seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.
Hadist tersebut menunjukkan betapa pentingnya posisi hati dalam tubuh manusia. Dia tidak hanya sekedar daging, tetapi juga penentu aqidah, penentu budi pekerti, dan penentu segala keputusan dalam hidup kita. Kegundahan hati yang disebabkan oleh problematika hidup yang penuh dengan konplik, persoalan dan tantangan, bisa menyebabkan hati kehilangan cahayanya. Ketika ini terjadi, maka besar kemungkinan kita akan menjadi gagal melampaui ujian hidup.
Ketahuilah, ada hati yang hidup dan ada pula hati yang mati. Tanda-tanda hati yang hidup adalah bersinarnya cahaya akal, sehingga dada menjadi lapang dan gelora nafsu menjadi padam, tunduk, dan lemah, karena pengaruh hawa nafsunya tidak berfungsi lagi. Sebab, jika akal kuat, hawanya menjadi lemah. Rasulullah SAW. bersabda “Setelah menciptakan akal, Allah berfirman kepadanya, ‘Menghadaplah!, Akal menghadap. Allah berfirman lagi kepadanya, Berpalinglah!, Akal berpaling. Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Diamlah!, Akalpun diam. Setelah itu Allah berfirman, ‘Demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku tidak menciptakan satu ciptaan pun yang lebih kucintai darimu. Dan Aku pasti akan meletakkanmu pada diri makhluk yang paling Kucintai. Denganmu Aku mengambil dan denganmu Aku memberi.’ Setelah itu Allah menciptakan kebodohan, dan berfirman kepadanya, ‘Menghadaplah!’ Ia berpaling. Allah berfirman kepadanya, ‘Berpalinglah’ Ia menghadap. Allah berfirman kepadanya, ‘Diamlah!’ Ia tidak mau diam. Allah kemudian berfirman, ‘Demi keagungan dan KebesaranKu, tidak kuciptakan suatu ciptaan pun yang lebih Kubenci darimu, dan Aku pasti akan meletakkanmu pada makhluk yang paling Kubenci.”
Ketahuilah, hati ini seperti rumah, jika dihuni akan tampak hidup, dan jika tidak, akan rusak karena tak akan terawat dengan baik. Dzikir dan ketaatan merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati. Barang siapa lebih banyak berdzikir dan melakukan ketaatan, akan semakin hidup hatinya. Dan barang siapa lalai dan sedikit zikirnya akan mati dengan sendirinya.
Adapun hamba yang hatinya hidup, kita akan melihatnya dicintai masyarakat, berada dalam kesenangan, tenang hatinya, baik perbuatannya, dan berwibawa penampilannya karena cahaya Allah yang memancar dari tubuhnya. Dengan hanya melihat hamba tersebut, jiwa merasakan kenikmatan, Allah SWT. berfirman artinya : “Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (AQ.Al-Hadid 21)
Adapun orang yang hatinya mati, kita akan melihatnya murung, perbuatannya buruk, tidak pernah merasakan ketergantungan dalam keadaan apapun, diliputi kesedihan dan kebencian, tunduk pada nafsu sehingga orang itu menjadi buta dan tidak dapat melihat aib-aibnya. Keadaan ini membuat hati menjadi bingung dan tidak tenang.
Kematian hati, kadang kala diakibatkan oleh sebab-sebab pembawaan, dan kadang-kadang oleh sebab-sebab yang lain yang menyelimuti kehidupan manusia. Adapun hati yang mati karena sebab pembawaan adalah hati yang keras, tidak kan khusyu’, tidak memiliki rasa kasih sayang. Manusia yang berhati seperti ini memiliki fitrah yang buruk, tidak mempunyai kesenangan batin, menyukai keramaian, tidak suka menyendiri, gemar omong kosong dan suka melakukan perbuatan yang sia-sia. Dari itu kita perlu menjaga hati dan nurani, dari berbagai bisikan buruk dan fikiran yang tidak baik. Hati seorang penuh hikmah adalah gudang harta dan sandaran dirinya, setiap kali terlintas dalam fikiran-fikiran buruk, segera dihilangkan dan dialihkan ketempat yang lain dan bermanfaat.
Bisikan yang terbetik dalam hati, sangat beragam, jika tidak segera dihapus, bisikan itu akan melekat kuat dan melahirkan hal-hal yang membahayakan, seperti amarah dan syahwat.
Membersihakan hati dari bisikan dan fikiran yang tidak bermanfaat, harus kita jaga seperti kita menjaga lisan kita, dari ucapan yang tidak pantas untuk diucapkan.
Karena liku-liku kehidupan yang kita lalui adalah semu. Goresan liku kehidupan yang menempel di dalam hati, bisa menyebabkan kehilangan kalbu, Jika hati menjadi gelap, tidak mungkin dapat memancarkan cahayanya, Sinar keimanan tidak dapat menembusnya, Indra keenam akan menjadi tumpul.
Agar hati dan Indra keenam dapat bercahaya, dan dapat mengenal keajaiban-keajaiban Allah. Maka yang harus diperhatikan adalah goresan tentang dunia yang dipandang oleh mata yang kemudian menempel di dalam hati haruslah disingkirkan. Hal itu merupakan belenggu nafsu. Selama nafsu membelenggu hati, maka jangan diharapkan dapat sampai kepada Allah. Orang yang mengharapkan ilmu dari Allah, yang mana dengan ilmu itu dapat menyingkap segala hal yang gaib, haruslah bertaubat dan bertaqwa. Orang yang bertaqwa tidak mungkin melakukan perbuatan buruk dan rendah. Karena taqwa dan perbuatan buruk (maksiat) merupakan dua hal yang bertolak belakang. Maka, mustahil dua hal itu dapat bertemu.
Oleh karena itu, janganlah kita menuruti keinginan-keinginan yang melantur tinggi selangit. Keinginan yang bermuara kepada penguasaan harta benda, kenikmatan dan jabatan duniawi. Jika kita mengumbar keinginan yang sejatinya memiliki nilai rendah itu, maka tak mungkin dapat menggunakan indra keenam yang untuk menyingkap perkara ghaib.
Nafsu memang karunia Allah yang diberikan kepada makhluk yang bernama manusia, tetapi kita harus menjaga sang nafsu dan mengendalikannya, agar tidak terbebaskan dengan begitu saja.
Jika diumpamakan, nafsu itu seperti kuda tunggangan yang liar, yang harus dipegang terus talinya oleh si joki atau diri kita sendiri itulah yang akan diminta pertanggung jawaban kelak dihari kiamat nanti. Ingatlah kita harus menjaga hati kita, tidak mengumbar syahwat terhadap harta, maka kita akan diperbudaknya. Semakin lama makin menggiurkan, sekaligus membutakan mata hati kita, tujuan hidup kita, mungkin akan membelok kepada mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Padahal sebelumnya hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. Akan tetapi, setelah semua itu terpenuhi, tiba-tiba saja kita ingin mengumpulkan lebih banyak, dan lebih besar lagi.
Jika seseorang merasakan dalam dirinya terdapat ajakan untuk melakukan ketaatan dan seruan untuk membenci kemaksiatan, maka hatinya memiliki cahaya. Cahaya ini akan membimbingnya. Ia bagaikan lampu yang menyala dalam rumah yang gelap. Seandainya tidak ada lampu, maka benda yang paling dekat dengannya ia tak akan mampu melihatnya. Jika cahaya hati tersebut telah bersinar kuat dihati, maka sinarnya akan menjalar hingga ke anggota tubuh.
Dikisahkan bahwa suatu hari seorang ahli bekam mengundang sejumlah orang saleh untuk menyantap hidangan. Dan tanpa sepengetahuan mereka, hidangan yang disajikan ternyata haram. Kendati telah berulang kali berusaha, ternyata mereka tidak dapat menjulurkan tangannya, untuk menikmati hidangan tersebut. Akhirnya mereka meninggalkan rumah ahli bekam itu tanpa memakan apapun.
Demikianlah, hati yang terjaga dan terpelihara, dan bercahaya dan cahayanya dapat menerangi kehidupan.
“Barang siapa yang tidak merasa cukup dengan sedikit harta yang dia miliki, maka harta yang banyakpun tidak akan pernah membuatnya puas. Barang siapa tidak mengamalkan sedikit ilmu yang dia miliki maka ketika memiliki ilmu yang banyak pun dia tidak akan mengamalkannya”
Wallahu a’lam
akikat kualitas hidup manusia dimulai dari hatinya, Karena itu disebutkan bahwa hati itu adalah kekuatan inti manusia. Dia adalah sekerat daging yang mampu mengalahkan kekuatan Jasad. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Ingatlah dalam jasad itu ada segumpal daging, jika dia baik, maka baiklah jasad seluruhnya, Jika ia rusak, maka rusaklah jasad itu seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.
Hadist tersebut menunjukkan betapa pentingnya posisi hati dalam tubuh manusia. Dia tidak hanya sekedar daging, tetapi juga penentu aqidah, penentu budi pekerti, dan penentu segala keputusan dalam hidup kita. Kegundahan hati yang disebabkan oleh problematika hidup yang penuh dengan konplik, persoalan dan tantangan, bisa menyebabkan hati kehilangan cahayanya. Ketika ini terjadi, maka besar kemungkinan kita akan menjadi gagal melampaui ujian hidup.
Ketahuilah, ada hati yang hidup dan ada pula hati yang mati. Tanda-tanda hati yang hidup adalah bersinarnya cahaya akal, sehingga dada menjadi lapang dan gelora nafsu menjadi padam, tunduk, dan lemah, karena pengaruh hawa nafsunya tidak berfungsi lagi. Sebab, jika akal kuat, hawanya menjadi lemah. Rasulullah SAW. bersabda “Setelah menciptakan akal, Allah berfirman kepadanya, ‘Menghadaplah!, Akal menghadap. Allah berfirman lagi kepadanya, Berpalinglah!, Akal berpaling. Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Diamlah!, Akalpun diam. Setelah itu Allah berfirman, ‘Demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku tidak menciptakan satu ciptaan pun yang lebih kucintai darimu. Dan Aku pasti akan meletakkanmu pada diri makhluk yang paling Kucintai. Denganmu Aku mengambil dan denganmu Aku memberi.’ Setelah itu Allah menciptakan kebodohan, dan berfirman kepadanya, ‘Menghadaplah!’ Ia berpaling. Allah berfirman kepadanya, ‘Berpalinglah’ Ia menghadap. Allah berfirman kepadanya, ‘Diamlah!’ Ia tidak mau diam. Allah kemudian berfirman, ‘Demi keagungan dan KebesaranKu, tidak kuciptakan suatu ciptaan pun yang lebih Kubenci darimu, dan Aku pasti akan meletakkanmu pada makhluk yang paling Kubenci.”
Ketahuilah, hati ini seperti rumah, jika dihuni akan tampak hidup, dan jika tidak, akan rusak karena tak akan terawat dengan baik. Dzikir dan ketaatan merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati. Barang siapa lebih banyak berdzikir dan melakukan ketaatan, akan semakin hidup hatinya. Dan barang siapa lalai dan sedikit zikirnya akan mati dengan sendirinya.
Adapun hamba yang hatinya hidup, kita akan melihatnya dicintai masyarakat, berada dalam kesenangan, tenang hatinya, baik perbuatannya, dan berwibawa penampilannya karena cahaya Allah yang memancar dari tubuhnya. Dengan hanya melihat hamba tersebut, jiwa merasakan kenikmatan, Allah SWT. berfirman artinya : “Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (AQ.Al-Hadid 21)
Adapun orang yang hatinya mati, kita akan melihatnya murung, perbuatannya buruk, tidak pernah merasakan ketergantungan dalam keadaan apapun, diliputi kesedihan dan kebencian, tunduk pada nafsu sehingga orang itu menjadi buta dan tidak dapat melihat aib-aibnya. Keadaan ini membuat hati menjadi bingung dan tidak tenang.
Kematian hati, kadang kala diakibatkan oleh sebab-sebab pembawaan, dan kadang-kadang oleh sebab-sebab yang lain yang menyelimuti kehidupan manusia. Adapun hati yang mati karena sebab pembawaan adalah hati yang keras, tidak kan khusyu’, tidak memiliki rasa kasih sayang. Manusia yang berhati seperti ini memiliki fitrah yang buruk, tidak mempunyai kesenangan batin, menyukai keramaian, tidak suka menyendiri, gemar omong kosong dan suka melakukan perbuatan yang sia-sia. Dari itu kita perlu menjaga hati dan nurani, dari berbagai bisikan buruk dan fikiran yang tidak baik. Hati seorang penuh hikmah adalah gudang harta dan sandaran dirinya, setiap kali terlintas dalam fikiran-fikiran buruk, segera dihilangkan dan dialihkan ketempat yang lain dan bermanfaat.
Bisikan yang terbetik dalam hati, sangat beragam, jika tidak segera dihapus, bisikan itu akan melekat kuat dan melahirkan hal-hal yang membahayakan, seperti amarah dan syahwat.
Membersihakan hati dari bisikan dan fikiran yang tidak bermanfaat, harus kita jaga seperti kita menjaga lisan kita, dari ucapan yang tidak pantas untuk diucapkan.
Karena liku-liku kehidupan yang kita lalui adalah semu. Goresan liku kehidupan yang menempel di dalam hati, bisa menyebabkan kehilangan kalbu, Jika hati menjadi gelap, tidak mungkin dapat memancarkan cahayanya, Sinar keimanan tidak dapat menembusnya, Indra keenam akan menjadi tumpul.
Agar hati dan Indra keenam dapat bercahaya, dan dapat mengenal keajaiban-keajaiban Allah. Maka yang harus diperhatikan adalah goresan tentang dunia yang dipandang oleh mata yang kemudian menempel di dalam hati haruslah disingkirkan. Hal itu merupakan belenggu nafsu. Selama nafsu membelenggu hati, maka jangan diharapkan dapat sampai kepada Allah. Orang yang mengharapkan ilmu dari Allah, yang mana dengan ilmu itu dapat menyingkap segala hal yang gaib, haruslah bertaubat dan bertaqwa. Orang yang bertaqwa tidak mungkin melakukan perbuatan buruk dan rendah. Karena taqwa dan perbuatan buruk (maksiat) merupakan dua hal yang bertolak belakang. Maka, mustahil dua hal itu dapat bertemu.
Oleh karena itu, janganlah kita menuruti keinginan-keinginan yang melantur tinggi selangit. Keinginan yang bermuara kepada penguasaan harta benda, kenikmatan dan jabatan duniawi. Jika kita mengumbar keinginan yang sejatinya memiliki nilai rendah itu, maka tak mungkin dapat menggunakan indra keenam yang untuk menyingkap perkara ghaib.
Nafsu memang karunia Allah yang diberikan kepada makhluk yang bernama manusia, tetapi kita harus menjaga sang nafsu dan mengendalikannya, agar tidak terbebaskan dengan begitu saja.
Jika diumpamakan, nafsu itu seperti kuda tunggangan yang liar, yang harus dipegang terus talinya oleh si joki atau diri kita sendiri itulah yang akan diminta pertanggung jawaban kelak dihari kiamat nanti. Ingatlah kita harus menjaga hati kita, tidak mengumbar syahwat terhadap harta, maka kita akan diperbudaknya. Semakin lama makin menggiurkan, sekaligus membutakan mata hati kita, tujuan hidup kita, mungkin akan membelok kepada mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Padahal sebelumnya hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. Akan tetapi, setelah semua itu terpenuhi, tiba-tiba saja kita ingin mengumpulkan lebih banyak, dan lebih besar lagi.
Jika seseorang merasakan dalam dirinya terdapat ajakan untuk melakukan ketaatan dan seruan untuk membenci kemaksiatan, maka hatinya memiliki cahaya. Cahaya ini akan membimbingnya. Ia bagaikan lampu yang menyala dalam rumah yang gelap. Seandainya tidak ada lampu, maka benda yang paling dekat dengannya ia tak akan mampu melihatnya. Jika cahaya hati tersebut telah bersinar kuat dihati, maka sinarnya akan menjalar hingga ke anggota tubuh.
Dikisahkan bahwa suatu hari seorang ahli bekam mengundang sejumlah orang saleh untuk menyantap hidangan. Dan tanpa sepengetahuan mereka, hidangan yang disajikan ternyata haram. Kendati telah berulang kali berusaha, ternyata mereka tidak dapat menjulurkan tangannya, untuk menikmati hidangan tersebut. Akhirnya mereka meninggalkan rumah ahli bekam itu tanpa memakan apapun.
Demikianlah, hati yang terjaga dan terpelihara, dan bercahaya dan cahayanya dapat menerangi kehidupan.
“Barang siapa yang tidak merasa cukup dengan sedikit harta yang dia miliki, maka harta yang banyakpun tidak akan pernah membuatnya puas. Barang siapa tidak mengamalkan sedikit ilmu yang dia miliki maka ketika memiliki ilmu yang banyak pun dia tidak akan mengamalkannya”
Wallahu a’lam
Keutamaan Da’wah dan Perjuangan Agama
H
ari ini kehidupan kita kebanyakan telah jauh dari tuntunan agama. Semangat menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya telah melemah, kecintaan kepada agama telah memudar, sebaliknya cinta dunia semakin tumbuh subur. Sikap mementingkan diri sendiri telah merajalela, satu sama lain saling menghina dan membuka aib. Akibatnya umat ini telah kehilangan wibawa di mata dunia, sehingga kehinaan demi kehinaan menimpa umat ini.
Padahal dahulu masa Nabi SAW. dan sesudahnya (7 abad pertama hijriyah) umat ini paling berwibawa, disegani dan ditakuti oleh hampir dua pertiga dunia, apalagi dengan diruntuhkannya dua negara adi kuasa waktu itu (Romawi dan Persia). Namun saat ini semua telah hilang karena kita telah meninggalkan kerja utama Rasulullah SAW. (kerja da’wah dan perjuangan agama), sehingga hukum-hukum Allah tidak tegak dimuka bumi ini. Dahulu para sahabat telah mencapai kemuliaan di dunia dan di akherat karena telah menjadikan kerja da’wah dan perjuangan agama sebagai kerja utama mereka, sedangkan kerja-kerja lain hanya sebatas keperluan bukan maksud. Telah menjadi opini umum bahwa bila orang dahulu masuk Islam mereka langsung mengikuti perjuangan dan penyebaran agama yang suci ini.
Renungkanlah sabda Nabi SAW., ”Apabila kamu sekalian hanya mementingkan urusan perniagaan, kalian hanya sibuk menggembala lembu-lembu (peternakan), kalian senang dengan pertanian dan meninggalkan jihad (usaha da’wah dan perjuangan agama), maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang tidak akan diangkat oleh Allah sehingga kalian kembali kepada agama kalian yakni kearah da’wah dan perjuangan agama”. (Abu Dawud)
Nabi SAW. telah bersabda ketika haji wada’, ”Laksanakanlah oleh kalian (segala yang datang) dariku, wahai hamba-hamba Allah ....................!”
Da’wah dan perjuangan agama adalah amalan yang paling utama dan paling mulia disisi Allah SWT. Pada zaman dahulu, tidak ada yang melakukan da’wah kecuali para Nabi dan Rasul. Akan tetapi salah satu tanda bahwa Allah SWT. memuliakan umat ini adalah dengan memberikan pekerjaan para Nabi yaitu da’wah.
Firman Allah SWT. : ”Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya
saksi-saksi (hari Qiamat)”. (Mukmin : 51)
Allah SWT. memberikan do’a mustajab kepada orang yang da’wah dan memperjuangkan agama yang do’a tersebut dapat menyamai do’a para Nabi. Suatu ketika Nabi SAW. naik keatas mimbar lalu bersabda, ”Wahai manusia, sesungguhnya Allah SWT. berfirman kepada kalian, suruhlah manusia kepada yang ma’ruf dan cegahlah mereka dari kemungkaran sebelum datang masanya dimana kalian berdo’a kepada-Ku, tetapi Aku tidak akan mengabulkan do’a kalian ; kalian minta bantuan kepada-Ku, tetapi Aku tidak akan membantu kalian”.
Asbab da’wah, Allah akan menjaga da’i (orang da’wah) dari fitnah. Fitnah disini maksudnya tidak adanya kejelasan mengenai yang haq sehingga terjerumus kedalam kesesatan tanpa ia sadari. Firman Allah SWT. : ”Sebagian dari mereka ada yang berkata, ”Berilah saya izin (untuk tidak pergi berjihad), dan janganlah kamu jadikan saya terjerumus ke dalam fitnah”, ketahuilah, bahwasanya mereka telah terjerumus kedalam fitnah ....................... (At Taubah : 49)
Sebagian golongan munafik telah meminta izin kepada Nabi SAW. untuk tetap tinggal dirumah (tidak ikut berjihad), maka Beliau pun mengizinkan mereka, sedangkan Allah mengetahui apa yang ada di dalam dada mereka. Kemudian Allah membuka rahasia hati mereka dengan memberi penjelasan bahwa sesungguhnya fitnah itu dalam meninggalkan da’wah.
Dengan asbab da’wah juga, Allah akan memberikan kemuliaan terhadap orang yang melakukannnya tanpa membedakan di negara mana mereka berada. Usaha da’wah juga dapat menyatukan hati, sebagaimana firman Allah SWT. : ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Ali Imran : 103)
Dengan sebab da’wah juga Allah akan menjadikan kehidupan seseorang baik laki-laki maupun perempuan tentram di dunia dan kesenangan yang abadi di akherat. Allah SWT. berfiman, ”Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (An Nahl : 97)
Amal-amal shaleh (hukum Allah) tidak akan wujud kecuali setelah adanya iman sedangkan iman itu sendiri didapat melalui usaha atas iman (da’wah dan perjuangan agama) sehingga Allah akan memberikan kehidupan yang sejahtera.
Dengan da’wah juga Allah akan memberikan khilafah (kekuasaan) di muka bumi dan memberikan keteguhan jiwa didalamnya. Sebagaimana telah kita dengar perkara-perkara tersebut telah dijanjikan oleh Allah dengan bersyarat, sesuai dengan firman Allah SWT., ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhoinya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq”. (An Nur : 55)
Usaha da’wah merupakan thariqah (jalan) yang akan menyampaikan kepada amal shalih. Lalu apakah da’wah itu? Da’wah yaitu menyeru/mengajak manusia kepada Allah, sehingga manusia kenal kepada Allah, lalu disembahlah Allah dan ditaatilah perintah dan hukum-Nya. Perintah-Nya diutamakan sebelum perintah yang lain, dan ketaatannya juga lebih diutamakan sebelum ketaatan pada yang lain. Kenapa Allah mesti disembah? Karena Dialah yang menciptakan kita, yang memberikan rezeki, yang menghidupkan dan mematikan. Allah memiliki khazanah (gudang kekayaan) yang tak pernah habis. Allah SWT. berfirman : ”Siapakah yang memperkenankan do’a orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amatlah sedikit kamu mengingat-Nya”. (An Naml : 62)
Jadi kita harus menyembah Allah dan mengajak manusia agar menyembah Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Rib’i bin Amir ra., ”Kami adalah kaum yang diutus oleh Allah untuk mengeluarkan (membebaskan) manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada pencipta manusia
dan dari sempitnya dunia kepada luasnya akherat”.
Inilah maksud tujuan da’wah, yakni merealisasikan ’ubudiyah (penyembahan / peribadatan) kepada Allah diseluruh alam. Sedangkan tidak mungkin kita dapat beribadah kepada Allah kecuali bila kita berjalan diatas thariqah (jalan) Rasulullah SAW., Allah SWT. berfirman : ”Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (An Nisa’ : 64)
Oleh karena itu, ibadah kita harus sesuai dengan cara dan petunjuk Nabi SAW. Dan mesti ditanamkan dalam hati kita fikir ke negeri akherat. Seluruh manusia akan mati, lalu dimasukkan ke alam kubur, dan keadaan alam kubur ini sesuai dengan amalan masing-masing. Bisa jadi berupa taman dari taman-taman Surga atau satu jurang dari jurang-jurang Neraka. Maka dalam setiap amal perbuatan kita hendaknya senantiasa dibarengi fikir akherat, tentang kubur dan segala kejadian di dalamnya.
Supaya yang haq ini tersebar ke seluruh alam, maka Allah memerintahkan kepada setiap muslim apapun keadaannya, apakah ia miskin ataupun kaya, semuanya wajib da’wah (sampaikan walau satu ayat). Allah SWT. tidak meletakkan syarat atau keahlian khusus untuk melakukan da’wah. Untuk da’wah perlu waktu sebagaimana orang yang kerja (mencari nafkah), dengan cara mendatangi umat diseluruh dunia bukan hanya mengajak orang ketempat kita atau menunggu diundang. Insya Allah hidayah akan tersebar keseluruh manusia, sehingga berjaya didunia dan akherat.
Wallahu a’lam
ari ini kehidupan kita kebanyakan telah jauh dari tuntunan agama. Semangat menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya telah melemah, kecintaan kepada agama telah memudar, sebaliknya cinta dunia semakin tumbuh subur. Sikap mementingkan diri sendiri telah merajalela, satu sama lain saling menghina dan membuka aib. Akibatnya umat ini telah kehilangan wibawa di mata dunia, sehingga kehinaan demi kehinaan menimpa umat ini.
Padahal dahulu masa Nabi SAW. dan sesudahnya (7 abad pertama hijriyah) umat ini paling berwibawa, disegani dan ditakuti oleh hampir dua pertiga dunia, apalagi dengan diruntuhkannya dua negara adi kuasa waktu itu (Romawi dan Persia). Namun saat ini semua telah hilang karena kita telah meninggalkan kerja utama Rasulullah SAW. (kerja da’wah dan perjuangan agama), sehingga hukum-hukum Allah tidak tegak dimuka bumi ini. Dahulu para sahabat telah mencapai kemuliaan di dunia dan di akherat karena telah menjadikan kerja da’wah dan perjuangan agama sebagai kerja utama mereka, sedangkan kerja-kerja lain hanya sebatas keperluan bukan maksud. Telah menjadi opini umum bahwa bila orang dahulu masuk Islam mereka langsung mengikuti perjuangan dan penyebaran agama yang suci ini.
Renungkanlah sabda Nabi SAW., ”Apabila kamu sekalian hanya mementingkan urusan perniagaan, kalian hanya sibuk menggembala lembu-lembu (peternakan), kalian senang dengan pertanian dan meninggalkan jihad (usaha da’wah dan perjuangan agama), maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang tidak akan diangkat oleh Allah sehingga kalian kembali kepada agama kalian yakni kearah da’wah dan perjuangan agama”. (Abu Dawud)
Nabi SAW. telah bersabda ketika haji wada’, ”Laksanakanlah oleh kalian (segala yang datang) dariku, wahai hamba-hamba Allah ....................!”
Da’wah dan perjuangan agama adalah amalan yang paling utama dan paling mulia disisi Allah SWT. Pada zaman dahulu, tidak ada yang melakukan da’wah kecuali para Nabi dan Rasul. Akan tetapi salah satu tanda bahwa Allah SWT. memuliakan umat ini adalah dengan memberikan pekerjaan para Nabi yaitu da’wah.
Firman Allah SWT. : ”Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya
saksi-saksi (hari Qiamat)”. (Mukmin : 51)
Allah SWT. memberikan do’a mustajab kepada orang yang da’wah dan memperjuangkan agama yang do’a tersebut dapat menyamai do’a para Nabi. Suatu ketika Nabi SAW. naik keatas mimbar lalu bersabda, ”Wahai manusia, sesungguhnya Allah SWT. berfirman kepada kalian, suruhlah manusia kepada yang ma’ruf dan cegahlah mereka dari kemungkaran sebelum datang masanya dimana kalian berdo’a kepada-Ku, tetapi Aku tidak akan mengabulkan do’a kalian ; kalian minta bantuan kepada-Ku, tetapi Aku tidak akan membantu kalian”.
Asbab da’wah, Allah akan menjaga da’i (orang da’wah) dari fitnah. Fitnah disini maksudnya tidak adanya kejelasan mengenai yang haq sehingga terjerumus kedalam kesesatan tanpa ia sadari. Firman Allah SWT. : ”Sebagian dari mereka ada yang berkata, ”Berilah saya izin (untuk tidak pergi berjihad), dan janganlah kamu jadikan saya terjerumus ke dalam fitnah”, ketahuilah, bahwasanya mereka telah terjerumus kedalam fitnah ....................... (At Taubah : 49)
Sebagian golongan munafik telah meminta izin kepada Nabi SAW. untuk tetap tinggal dirumah (tidak ikut berjihad), maka Beliau pun mengizinkan mereka, sedangkan Allah mengetahui apa yang ada di dalam dada mereka. Kemudian Allah membuka rahasia hati mereka dengan memberi penjelasan bahwa sesungguhnya fitnah itu dalam meninggalkan da’wah.
Dengan asbab da’wah juga, Allah akan memberikan kemuliaan terhadap orang yang melakukannnya tanpa membedakan di negara mana mereka berada. Usaha da’wah juga dapat menyatukan hati, sebagaimana firman Allah SWT. : ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Ali Imran : 103)
Dengan sebab da’wah juga Allah akan menjadikan kehidupan seseorang baik laki-laki maupun perempuan tentram di dunia dan kesenangan yang abadi di akherat. Allah SWT. berfiman, ”Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (An Nahl : 97)
Amal-amal shaleh (hukum Allah) tidak akan wujud kecuali setelah adanya iman sedangkan iman itu sendiri didapat melalui usaha atas iman (da’wah dan perjuangan agama) sehingga Allah akan memberikan kehidupan yang sejahtera.
Dengan da’wah juga Allah akan memberikan khilafah (kekuasaan) di muka bumi dan memberikan keteguhan jiwa didalamnya. Sebagaimana telah kita dengar perkara-perkara tersebut telah dijanjikan oleh Allah dengan bersyarat, sesuai dengan firman Allah SWT., ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhoinya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq”. (An Nur : 55)
Usaha da’wah merupakan thariqah (jalan) yang akan menyampaikan kepada amal shalih. Lalu apakah da’wah itu? Da’wah yaitu menyeru/mengajak manusia kepada Allah, sehingga manusia kenal kepada Allah, lalu disembahlah Allah dan ditaatilah perintah dan hukum-Nya. Perintah-Nya diutamakan sebelum perintah yang lain, dan ketaatannya juga lebih diutamakan sebelum ketaatan pada yang lain. Kenapa Allah mesti disembah? Karena Dialah yang menciptakan kita, yang memberikan rezeki, yang menghidupkan dan mematikan. Allah memiliki khazanah (gudang kekayaan) yang tak pernah habis. Allah SWT. berfirman : ”Siapakah yang memperkenankan do’a orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amatlah sedikit kamu mengingat-Nya”. (An Naml : 62)
Jadi kita harus menyembah Allah dan mengajak manusia agar menyembah Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Rib’i bin Amir ra., ”Kami adalah kaum yang diutus oleh Allah untuk mengeluarkan (membebaskan) manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada pencipta manusia
dan dari sempitnya dunia kepada luasnya akherat”.
Inilah maksud tujuan da’wah, yakni merealisasikan ’ubudiyah (penyembahan / peribadatan) kepada Allah diseluruh alam. Sedangkan tidak mungkin kita dapat beribadah kepada Allah kecuali bila kita berjalan diatas thariqah (jalan) Rasulullah SAW., Allah SWT. berfirman : ”Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (An Nisa’ : 64)
Oleh karena itu, ibadah kita harus sesuai dengan cara dan petunjuk Nabi SAW. Dan mesti ditanamkan dalam hati kita fikir ke negeri akherat. Seluruh manusia akan mati, lalu dimasukkan ke alam kubur, dan keadaan alam kubur ini sesuai dengan amalan masing-masing. Bisa jadi berupa taman dari taman-taman Surga atau satu jurang dari jurang-jurang Neraka. Maka dalam setiap amal perbuatan kita hendaknya senantiasa dibarengi fikir akherat, tentang kubur dan segala kejadian di dalamnya.
Supaya yang haq ini tersebar ke seluruh alam, maka Allah memerintahkan kepada setiap muslim apapun keadaannya, apakah ia miskin ataupun kaya, semuanya wajib da’wah (sampaikan walau satu ayat). Allah SWT. tidak meletakkan syarat atau keahlian khusus untuk melakukan da’wah. Untuk da’wah perlu waktu sebagaimana orang yang kerja (mencari nafkah), dengan cara mendatangi umat diseluruh dunia bukan hanya mengajak orang ketempat kita atau menunggu diundang. Insya Allah hidayah akan tersebar keseluruh manusia, sehingga berjaya didunia dan akherat.
Wallahu a’lam
Klasifikasi Anak Menurut Pandangan Islam
”Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kendaraan pilihan, binatang ternak dan sawah ladang (pertanian/perkebunan). Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang
baik (Surga)”. (Al Imran : 14)
K
ehadiran seorang anak dalam suatu keluarga merupakan pelengkap ”elemen” sebuah rumah tangga, karena hadirnya buah hati tersebut akan dapat mempengaruhi status sosial sebuah keluarga di tengah masyarakat. Disamping itu dengan kehadiran anak dapat lebih mempererat ikatan perkawinan pasangan suami istri.
Sering kita dengar pasangan suami istri yang selalu gelisah setelah sekian lama menikah belum juga dikarunia seorang anak, sehingga tak segan-segan dengan berbagai cara ditempuh baik melalui perantara dokter, obat bahkan seorang dukun-pun didatangi guna mendapat pertolongannya.
Kenyataan ditengah masyarakat ternyata tidak semua anak yang terlahir dapat memberikan kebahagiaan terhadap orang tua, hal ini disebabkan perilaku serta sikap anak tersebut yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bahkan agama. Kondisi seperti ini tidak dapat sepenuhnya kita menyalahkan anak, mungkin kita sendiri yang membuat suatu kondisi sehingga terbentuk jiwa dan perilaku anak yang kurang beradab.
Pada awalnya seorang anak yang lahir kedunia ini sudah ditakdirkan dalam kondisi ”fitrah” suci dan bersih, namun kondisi lingkungan yang berada di sekelilingnya-lah yang akan mempengaruhi karakter anak. Keadaan lingkungan dapat mencakup lingkungan keluarga (kondisi keluarga), lingkungan tempat tinggal (masyarakat) maupun lingkungan pendidikan.
Sebuah mafhum hadits menyatakan, ”Setiap anak dilahirkan atas fitrah, maka orang tuanya-lah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi dan Majudsi”.
Output setiap anak yang berbeda-beda tersebut seperti yang telah disebutkan hadits diatas, ternyata berasal dari pendidikan dan asuhan orang tua, yang tentu saja sangat menentukan karakter dan keberadaan anak itu sendiri. Apakah dijadikan hamba Allah atau justru anak yang ingkar terhadap Allah.
Berdasarkan Al Qur’an, maka keberadaan anak didalam keluarga maupun masyarakat dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Qurrota a’yun (penyejuk mata hati)
”Dan orang-orang yang berkata, ”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah bagi kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al Furqon : 74)
Pada tingkatan ini, posisi anak dapat ada dirinya terbentuk dari tiga struktur utama yaitu menjadi penyejuk mata hati, baik bagi orang tua, masyarakat dan mendapat ridho dari Allah SWT.
Pada dirinya terbentuk dari tiga struktur utama yaitu : pertama, fisik yang sehat serta struktur jasmani yang kuat ; kedua, otak serta pola fikirnya tidak hanya diisi dengan teori-teori ilmu keduniaan (ilmu matematika, kedokteran, sosial dan lain-lain), tetapi juga dipenuhi dengan ilmu keakheratan (ilmu tentang dosa, pahala, adanya Surga dan Neraka serta hal yang ghaib) ; ketiga, qolbunya atau jiwanya dipenuhi dengan ketauhid-an, ketaqwaan serta akhlak yang terpuji.
2. Ziinatul hayatiddunya (perhiasan dunia)
”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhan serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (Al Kahfi : 46)
Pada tingkatan ini posisi anak hanya menjadi suatu kebanggaan kehidupan didunia saja dan tidak tergolong dalam kategori anak yang shaleh, pada dirinya terbentuk struktur fisik yang kuat seperti pada tingkatan pertama tetapi kondisi otak serta qolbunya hanya berisi dan berfikir tentang kehidupan dunia tanpa memikirkan dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akherat. Sepintas orang awam menilai dia berhasil, padahal tergolong orang yang merugi.
3. Adduulakum (musuh-musuhmu)
”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (At Taghabun : 14)
Pada tingkatan ketiga ini, posisi anak justru dapat menjadi musuh bagi orang tua maupun masyarakat dalam kehidupan dunia lebih-lebih kehidupan akherat. Pada dirinya terbentuk fisik yang sehat tetapi qolbunya hanya cenderung berfikir tentang dirinya sendiri. Apa yang menurutnya baik itulah yang dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat.
Golongan anak pada tingkatan ini sangat membahayakan, sebab selalu menempatkan harga dirinya terlalu mahal, sehingga dalam fikirannya hanya dia sendiri yang benar tanpa mau mendengar nasehat maupun teguran dari pihak lain. Bahkan menutup kemungkinan justru kita yang akan terbawa arusnya yang selalu mengajak kearah perbuatan yang meresahkan dan mengarah kepada murka Allah SWT.
Selaku orang tua selayaknya berharap untuk mendapat anak dengan kategori ”qurrota a’yun” sehingga selain menjadi pelengkap isi keluarga juga mampu mengajak dan membimbing orang tua menuju jalan ke Surga. Untuk mendapatkan tingkatan anak tersebut sangat perlu dan harus mengarahkan dan membimbing anak sedini mungkin dengan pendidikan yang berbasis agama tanpa melupakan pendidikan umum.
”Pemberian terbaik seorang ayah kepada anaknya adalah pendidikan dan adab yang baik”, demikian sabda Rasulullah SAW.
Wallahu a’lam.
baik (Surga)”. (Al Imran : 14)
K
ehadiran seorang anak dalam suatu keluarga merupakan pelengkap ”elemen” sebuah rumah tangga, karena hadirnya buah hati tersebut akan dapat mempengaruhi status sosial sebuah keluarga di tengah masyarakat. Disamping itu dengan kehadiran anak dapat lebih mempererat ikatan perkawinan pasangan suami istri.
Sering kita dengar pasangan suami istri yang selalu gelisah setelah sekian lama menikah belum juga dikarunia seorang anak, sehingga tak segan-segan dengan berbagai cara ditempuh baik melalui perantara dokter, obat bahkan seorang dukun-pun didatangi guna mendapat pertolongannya.
Kenyataan ditengah masyarakat ternyata tidak semua anak yang terlahir dapat memberikan kebahagiaan terhadap orang tua, hal ini disebabkan perilaku serta sikap anak tersebut yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bahkan agama. Kondisi seperti ini tidak dapat sepenuhnya kita menyalahkan anak, mungkin kita sendiri yang membuat suatu kondisi sehingga terbentuk jiwa dan perilaku anak yang kurang beradab.
Pada awalnya seorang anak yang lahir kedunia ini sudah ditakdirkan dalam kondisi ”fitrah” suci dan bersih, namun kondisi lingkungan yang berada di sekelilingnya-lah yang akan mempengaruhi karakter anak. Keadaan lingkungan dapat mencakup lingkungan keluarga (kondisi keluarga), lingkungan tempat tinggal (masyarakat) maupun lingkungan pendidikan.
Sebuah mafhum hadits menyatakan, ”Setiap anak dilahirkan atas fitrah, maka orang tuanya-lah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi dan Majudsi”.
Output setiap anak yang berbeda-beda tersebut seperti yang telah disebutkan hadits diatas, ternyata berasal dari pendidikan dan asuhan orang tua, yang tentu saja sangat menentukan karakter dan keberadaan anak itu sendiri. Apakah dijadikan hamba Allah atau justru anak yang ingkar terhadap Allah.
Berdasarkan Al Qur’an, maka keberadaan anak didalam keluarga maupun masyarakat dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Qurrota a’yun (penyejuk mata hati)
”Dan orang-orang yang berkata, ”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah bagi kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al Furqon : 74)
Pada tingkatan ini, posisi anak dapat ada dirinya terbentuk dari tiga struktur utama yaitu menjadi penyejuk mata hati, baik bagi orang tua, masyarakat dan mendapat ridho dari Allah SWT.
Pada dirinya terbentuk dari tiga struktur utama yaitu : pertama, fisik yang sehat serta struktur jasmani yang kuat ; kedua, otak serta pola fikirnya tidak hanya diisi dengan teori-teori ilmu keduniaan (ilmu matematika, kedokteran, sosial dan lain-lain), tetapi juga dipenuhi dengan ilmu keakheratan (ilmu tentang dosa, pahala, adanya Surga dan Neraka serta hal yang ghaib) ; ketiga, qolbunya atau jiwanya dipenuhi dengan ketauhid-an, ketaqwaan serta akhlak yang terpuji.
2. Ziinatul hayatiddunya (perhiasan dunia)
”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhan serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (Al Kahfi : 46)
Pada tingkatan ini posisi anak hanya menjadi suatu kebanggaan kehidupan didunia saja dan tidak tergolong dalam kategori anak yang shaleh, pada dirinya terbentuk struktur fisik yang kuat seperti pada tingkatan pertama tetapi kondisi otak serta qolbunya hanya berisi dan berfikir tentang kehidupan dunia tanpa memikirkan dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akherat. Sepintas orang awam menilai dia berhasil, padahal tergolong orang yang merugi.
3. Adduulakum (musuh-musuhmu)
”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (At Taghabun : 14)
Pada tingkatan ketiga ini, posisi anak justru dapat menjadi musuh bagi orang tua maupun masyarakat dalam kehidupan dunia lebih-lebih kehidupan akherat. Pada dirinya terbentuk fisik yang sehat tetapi qolbunya hanya cenderung berfikir tentang dirinya sendiri. Apa yang menurutnya baik itulah yang dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat.
Golongan anak pada tingkatan ini sangat membahayakan, sebab selalu menempatkan harga dirinya terlalu mahal, sehingga dalam fikirannya hanya dia sendiri yang benar tanpa mau mendengar nasehat maupun teguran dari pihak lain. Bahkan menutup kemungkinan justru kita yang akan terbawa arusnya yang selalu mengajak kearah perbuatan yang meresahkan dan mengarah kepada murka Allah SWT.
Selaku orang tua selayaknya berharap untuk mendapat anak dengan kategori ”qurrota a’yun” sehingga selain menjadi pelengkap isi keluarga juga mampu mengajak dan membimbing orang tua menuju jalan ke Surga. Untuk mendapatkan tingkatan anak tersebut sangat perlu dan harus mengarahkan dan membimbing anak sedini mungkin dengan pendidikan yang berbasis agama tanpa melupakan pendidikan umum.
”Pemberian terbaik seorang ayah kepada anaknya adalah pendidikan dan adab yang baik”, demikian sabda Rasulullah SAW.
Wallahu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)