Minggu, 30 Agustus 2009

MENGGAPAI KEBERKAHAN

Berkah atau barakah merupakan sebuah kata yang penuh makna. Dari zaman ke zaman, umat Islam berlomba-lomba untuk mencari keberkahan tersebut di dalam setiap segi kehidupannya. Ada yang mengharapkan keberkahan rezeki, keberkahan ilmu, keberkahan tempat dan sebagainya.
Dalam hidup ini, setiap manusia tentu ingin memperoleh keberkahan dalam hidupnya. Karena itu, kita selalu berdo’a dan juga meminta orang lain mendoakan agar segala sesuatu yang kita miliki dan kita upayakan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
Secara harfiah berkah memiliki arti “tumbuh dan bertambah”. Dengan pengertian lain keberkahan adalah kebaikan yang bersumber dari Allah semata, yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya, sehingga apa yang kita peroleh dan kita miliki membawa pengaruh negatif, maka kita berarti tidak memperoleh keberkahan.
Allah SWT tidak memberikan keberkahan kepada semua manusia, Dia hanya akan memberi keberkahan itu kepada orang yang beriman dan bertaqwa kepanya. Janji Allah untuk memberikan keberkahan kepada orang yang beriman dan bertaqwa dikemukakan dalam firmannya yang artinya. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(Al-A’raf :96).
Keberkahan disebutkan juga dalam Hadis Rasulullah Saw. yang artinya :
“Ya Allah, berkatilah buah-buahan kami, berkatilah kota kami, berkatilah takaran sha’ kami dan berkatilah takaran mud kami.” (HR.Muslim).
Dari ayat dan hadis di atas membuktikan bahwa berkah sangat penting dan dibutuhkan. Jika Allah memberikan keberkahan kepada sesuatu, maka sesuatu itu akan mendapatkan kebaikkan yang banyak dan berkesinambungan. Karena manfaat berkah sangat besar, maka umat islam dari zaman kezaman berusaha mencari keberkahan tersebut dalam setiap celah kehidupan.
Apabila manusia baik secara pribadi, maupun kelompok atau masyarakat memperoleh keberkahan dari Allah SWT, maka kehidupannya akan selalu berjalan dengan baik, rizki yang diperoleh cukup bahkan melimpah, sedang ilmu dan amalnya selalu memberi manfaat yang besar dalam kehidupannya. Disinilah letak pentingnya bagi kita memahami apa sebenarnya keberkahan itu agar kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya.
Keberkahan tidak semata diukur dengan banyaknya harta benda yang kita miliki, banyak harta belum tentu berkah, sebab justru bisa mendatangkan malapetaka bagi kita. Bahkan, para ulama membagi keberkahan dalam tiga bentuk, yakni diantaranya :
Pertama, berkah dalam keturunan, yakni dengan lahirnya generasi yang sholeh. Generasi yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal sholehnya, ini merupakan suatu yang amat penting, apalagi terwujudnya generasi yang berkualitas yang merupakan dambaan bagi setiap manusia.
Kedua, berkah dalam soal waktu yang cukup tersedia dan dimanfaatkannya untuk kebaikkan, baik dalam bentuk mencari harta, memperluas ilmu maupun memperbanyak amal saleh, karena itu Allah menganugrahi kepada kita waktu, baik siang maupun malam Sudah begitu banyak manusia yang mengalami kerugian dalam hidup, karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, sementara salah satu karakteristik waktu dengan baik, adalah tidak akan bisa kembali lagi. Karena itulah, setiap kita harus mengimani kebenaran Al-Qur’an yang merupakan wahyu dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam, tapi bagi orang yang diberkahi Allah maka dia bisa memanfaatkan waktu yang 24 jam itu semaksimal mungkin sehingga pencapaian sesuatu yang baik berhasil ditempuh dengan penggunaan waktu yang efisien dari Allah, sehingga tidak akan kita temukan kelemahannya didalamya, selanjutnya kita membaca serta menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, baik menyangkut aspek pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa
Ketiga, keberkahan dalam soal makanan yakni makanan yang halal dan baik, yaitu halal jenisnya dan juga halal dalam mendapatkannya, sehingga bagi orang yang diberkahi Allah, dia tidak menghalalkan segala cara dalam mencarinya untuk memperoleh nafkah. Disamping itu, makanan yang diberkahi juga adalah halal atau baik, yakni yang sehat dan bergizi, sehinga makanan yang halal itu tidak hanya mengenyangkan tapi juga untuk menghasilkan tenaga yang kuat untuk selanjutnya dengan tenaga yang kuat itu digunakan untuk melaksanakan dan menegakkan nilai-nilai kebaikan sebagai bukti dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Karena itulah, agar apa yang kita makan juga membawa keberkahan yang lebih banyak lagi, meskipun telah halal dan baik. Makanan itu harus dimakan sewajarnya atau secukupnya, karena itu Allah sangat melarang manusia berlebih-lebihan dalam makan maupun minum.
Jika sekelompok orang makan bersama sekedar menghapus rasa lapar dan tidak dengan rakus serta masing-masing mengutamakan yang lain; masing-masing tidak marah ketika temannya makan lebih banyak darinya, maka mereka akan diberkati.
Diceritakan bahwa sejumlah orang saleh pada suatu malam makan bersama dalam sebuah jamuan yang mereka adakan. Di dalam hati masing-masing telah berniat untuk mengutamakan temannya, tanpa sepengetahuan yang lain. Saat hendak makan, tiba-tiba lampu padam. Merekapun duduk dihadapan hidangan yang telah disediakan, cukup lama sesuai waktu makan sembari bersandiwara seakan-akan ia sedang menyantap makanan yang terhidang. Ketika bangkit meninggalkan tempat makan tersebut, ternyata semua hidangan itu masih utuh, tidak kurang sedikit pun.
Dalam kisah lain diceritakan bahwa salah seorang sahabat mendapat hadiah sebuah kepala kambing, ia kemudian mengirimkan kepala kambing itu kepada temannya dan temannya tersebut menghadiahkan kepala kambing itu kepada temannya yang lain, dan temannya itu menghadiahkan kepada temannya yang lain pula, demikian seterusnya hingga kepala kambing itu kembali kepada orang pertama sekali menghadiahkannya. Mereka melakukan semua ini, padahal mereka semua sangat membutuhkannya.
Demikianlah keindahan orang-orang yang terdahulu bisa berbagi dan apa adanya. Adapun orang saat ini, seorang yang mempunyai makanan yang sangat berlebih, dan mendengar seorang miskin meminta sesuap makanan, ia tidak memberinya apapun, malah kalaupun diberikannya disertai dengan sumpah serapah yang menyakitkan.
Mengutamakan orang lain dan membantunya merupakan dua hal yang berbeda. Ketika kita dalam keadaan membutuhkan, kemudian kita memberikan semua yang kita miliki kepada orang lain, yang sedang dalam keadaan yang membutuhkan juga. Sedangkan kalau kita dalam keadaan membutuhkan, kemudian kita memberikan sebagian yang kita miliki kepada orang lain, maka kita disebut sebagai membantu orang lain. Disinilah perlunya kita sesama umat islam dibutuhkan saling membantu satu dengan yang lainnya, agar kehidupan kita dimasa sulit dapat teratasi, dan bagi orang-orang yang memiliki kelebihan, dapat mensedekahkannya kepada saudara-saudara kita yang membutuhkanya.
Bagi kita kita umat islam, Al-Qur’an merupakan sumber keberkahan, sehingga apabila kita menjalankan pesan-pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan berpedoman kepadanya dalam berbagai aspek kehidupan, niscaya kita akan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
Setelah membaca uraian singkat ini, semoga kiranya kita kian menyadari bahwa keberkahan dari Allah yang kita dambakan itu, untuk memperolehnya ternyata harus dengan berdoa dan berusaha secara bersungguh-sungguh, yakni dalam bentuk memantapkan iman dan taqwa, serta selalu menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam hidup ini. Semoga bermanfaat
“Barang siapa menempatkan dirinya dihadapan Allah seperti budak didapan tuannya, maka dia akan meraih semua kesumpurnaan”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar